NAWACITAPOST.COM - Forbes kembali merilis daftar tahunan Global 2000 edisi ke-23, yang memuat 2.000 perusahaan publik terbesar dunia berdasarkan gabungan empat indikator utama, yakni pendapatan, laba bersih, aset, dan kapitalisasi pasar. Daftar tahun ini mencatat rekor tertinggi sejak pertama kali diterbitkan, dengan total pendapatan mencapai 52,9 triliun dollar AS, laba bersih 4,9 triliun dollar AS, aset 242,2 triliun dollar AS, dan kapitalisasi pasar 91,3 triliun dollar AS.
Pencapaian tersebut terjadi di tengah ketegangan geopolitik global dan meningkatnya proteksionisme ekonomi di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Meski begitu, data menunjukkan bahwa globalisasi masih menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi dunia.
JPMorgan Chase kembali menempati posisi puncak untuk tahun ketiga berturut-turut, dengan aset lebih dari 4.300 miliar dollar AS, pendapatan 285 miliar dollar AS, dan laba 59 miliar dollar AS. JPMorgan menjadi satu-satunya perusahaan yang masuk dalam 20 besar pada keempat kategori indikator Forbes.
Posisi kedua diisi oleh Berkshire Hathaway, disusul oleh Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) di posisi ketiga yang memiliki aset terbesar di daftar ini, yakni 6.688 miliar dollar AS. Saudi Aramco berada di posisi keempat dan mencatatkan laba tertinggi di dunia, hampir 105 miliar dollar AS.
Di urutan kelima, Amazon memimpin dalam pendapatan tertinggi dengan 637,9 miliar dollar AS. Alphabet dan Microsoft sama-sama berada di peringkat sembilan, sementara Apple menempati posisi ke-11. Meskipun tidak menduduki peringkat tertinggi dalam skor gabungan, Apple tetap memegang kapitalisasi pasar terbesar di dunia, lebih dari 3.100 miliar dollar AS.
Dari delapan perusahaan teratas, lima berasal dari sektor perbankan. Sementara itu, perusahaan teknologi seperti Apple, Microsoft, Alphabet, dan Amazon mendominasi dari sisi kapitalisasi pasar.
Namun, sektor teknologi secara umum memiliki aset lebih kecil dibanding sektor keuangan, sehingga tidak mendominasi secara keseluruhan dalam peringkat yang menggunakan kombinasi indikator. Sementara, sektor perbankan mendominasi daftar Global 2000, dengan 88 dari 100 perusahaan beraset terbesar berasal dari sektor ini.
Secara keseluruhan, terdapat 328 bank dalam daftar, mulai dari JPMorgan hingga bank regional seperti Keiyo Bank asal Jepang. Selain itu, 134 perusahaan keuangan diversifikasi juga masuk dalam daftar, di antaranya Goldman Sachs di peringkat 20, Charles Schwab di 124, dan Blackstone di 418.
Baca Juga: Ciputra Group Gelar Penandatanganan Massal AJB, Ratusan Konsumen Pastikan Legalitas Properti
Kebijakan ekonomi Presiden Trump menjadi sorotan tersendiri dalam laporan ini. Dalam lima bulan masa jabatan barunya, Trump telah mengkritik sejumlah mitra dagang utama dan mengancam pemberlakuan tarif baru dalam upaya mengurangi defisit perdagangan.
CEO Walmart, Doug McMillon, menyatakan kekhawatiran bahwa tarif bisa meningkatkan harga barang bagi konsumen. Sementara CEO JPMorgan, Jamie Dimon, menilai pendekatan isolasionis akan merugikan kekuatan ekonomi jangka panjang Amerika Serikat. “Amerika akan menjadi yang pertama—tetapi tidak jika berdiri sendirian,” tulisnya dalam surat tahunan.
Investor Ken Griffin turut menyampaikan pandangan kritis bahwa tarif akan menekan daya saing perusahaan domestik dan langsung membebani konsumen. Sejak Trump kembali menjabat, indeks S\&P 500 tercatat tumbuh hanya 0,59 persen, jauh di bawah pertumbuhan indeks saham Eropa dan China yang mendekati 20 persen.
Dalam daftar tahun ini, Nvidia mencatat lonjakan signifikan, naik 63 peringkat ke posisi 47 berkat permintaan tinggi atas chip untuk kecerdasan buatan. Sebaliknya, Intel mengalami penurunan tajam dari posisi 107 ke 488 setelah mencatat kerugian 19 miliar dollar AS akibat restrukturisasi dan depresiasi aset. Beberapa perusahaan lain seperti Disney dan Pfizer kembali masuk ke 100 besar, sedangkan BP terjun 374 peringkat ke posisi 421 karena penurunan laba yang drastis.