NAWACITAPOST.COM - India meluncurkan serangan terhadap Pakistan pada Rabu, 7 Mei 2025, sebagai bentuk pembalasan atas insiden berdarah yang menewaskan 26 turis Hindu di wilayah Kashmir yang dikuasai India pada bulan April. Serangan tersebut dilakukan dengan menembakkan rudal ke enam lokasi di perbatasan Kashmir wilayah Pakistan, yang menurut pemerintah India, merupakan markas kelompok teroris yang bertanggung jawab atas serangan sebelumnya.
Pemerintah India menegaskan bahwa tindakan itu bukan ditujukan langsung kepada negara Pakistan, melainkan pada target-target militan. Namun, serangan tersebut menelan korban jiwa dan luka-luka di pihak Pakistan.
Juru bicara militer Pakistan, Letnan Jenderal Ahmed Sharif, menginformasikan bahwa lima warga sipil tewas di Ahmedpur Timur, Punjab, dan tiga lainnya meninggal di lokasi berbeda. Total korban luka mencapai 38 orang.
Tanggapan dari Pakistan tidak menunggu lama. Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyampaikan bahwa Pakistan tengah mempersiapkan respons balasan dan tidak menutup kemungkinan terjadinya perang.
Dalam pernyataannya, ia menegaskan, "Pakistan memiliki sepenuhnya hak untuk memberikan respons tegas terhadap tindakan perang yang dipaksakan oleh India, dan respons yang kuat memang sedang diberikan."
Ia juga menyatakan keyakinan bahwa angkatan bersenjata Pakistan siap menghadapi setiap ancaman. “Bangsa Pakistan dan Angkatan Bersenjata Pakistan tahu betul cara menghadapi musuh. Kami tidak akan pernah membiarkan musuh berhasil dalam tujuan jahatnya."
Pemicu dari rangkaian ketegangan ini berawal pada 23 April 2025, ketika terjadi serangan terhadap para wisatawan di Pahalgam, kawasan wisata di Himalaya yang termasuk wilayah Kashmir yang dikuasai India. Serangan itu menewaskan 26 orang dan melukai 17 lainnya.
Kelompok teroris Lashkar-e-Taiba sempat dikaitkan dengan insiden ini, namun mereka kemudian membantah terlibat. India mengklaim telah mengidentifikasi beberapa tersangka, dua di antaranya berkewarganegaraan Pakistan, meski belum ada rincian lebih lanjut tentang identitas mereka.
Baca Juga: Profil Ignatius Suharyo, Kardinal dari Indonesia yang Ikut Tentukan Paus Baru
Hubungan India dan Pakistan memang telah lama dibayangi konflik, terutama terkait wilayah Kashmir. Sejak kemerdekaan India dan Pakistan pada 1947, wilayah ini menjadi titik panas.
Meskipun mayoritas penduduk Kashmir beragama Islam, penguasanya saat itu memilih bergabung dengan India. Hal ini memicu ketegangan yang kemudian berkembang menjadi Perang India-Pakistan pertama. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian membagi wilayah tersebut menjadi dua bagian yang masing-masing dikuasai oleh India dan Pakistan, namun keduanya tetap mengklaim wilayah penuh atas Kashmir.
Masalah utama dari konflik ini berkisar pada status politik Kashmir, identitas nasional dan agama, serta ketidakmampuan dan keengganan kedua negara untuk menyelenggarakan referendum sebagaimana pernah diusulkan Dewan Keamanan PBB. India menganggap wilayah Jammu dan Kashmir sebagai bagian sah dari negaranya, sementara Pakistan melihatnya sebagai wilayah yang seharusnya menjadi bagian dari Pakistan karena demografi penduduknya yang mayoritas Muslim.