NAWACITAPOST.COM - Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo adalah tokoh sentral dalam Gereja Katolik Indonesia yang telah mengabdikan hidupnya bagi umat dan bangsa. Lahir pada 9 Juli 1950 di Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Suharyo tumbuh dalam keluarga Katolik yang taat sebagai anak ketujuh dari sepuluh bersaudara.
Sejak muda, ia sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia rohani, yang kemudian membawanya pada jalan panggilan imamat. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 26 Januari 1976 oleh Justinus Kardinal Darmojuwono.
Setelah bertahun-tahun melayani di Keuskupan Agung Semarang, Suharyo diangkat menjadi Uskup Agung Semarang pada 1997. Pengabdiannya tak berhenti di sana. Pada tahun 2006, ia diberi kepercayaan tambahan sebagai Uskup Ordinariat Militer Indonesia, sebuah posisi yang bertanggung jawab atas pembinaan iman umat Katolik di lingkungan militer.
Kariernya semakin menanjak ketika pada tahun 2009 diangkat menjadi Uskup Agung Koajutor Jakarta, mendampingi Julius Kardinal Darmaatmadja. Setelah pengunduran diri Darmaatmadja, Suharyo secara resmi menjabat sebagai Uskup Agung Jakarta pada 29 Juni 2010.
Selama memimpin Keuskupan Agung Jakarta, ia dikenal aktif memperkuat kehidupan pastoral, mendorong dialog antaragama, serta memperjuangkan nilai keadilan sosial di tengah keragaman masyarakat Indonesia.
Pada 5 Oktober 2019, Suharyo diberi kehormatan besar oleh Paus Fransiskus ketika ia diangkat sebagai kardinal dengan gelar Kardinal-Imam Spirito Santo alla Ferratella. Pengangkatan ini menjadikannya sebagai kardinal ketiga dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia, suatu pencapaian yang mencerminkan pengakuan dunia atas kiprah dan keteladanannya.
Selain perannya di Keuskupan Agung Jakarta, Suharyo juga berperan penting di tingkat nasional. Sejak 2012, ia menjabat sebagai Ketua Konferensi Waligereja Indonesia.
Dalam kapasitas ini, ia tidak hanya menjadi suara Gereja Katolik di Indonesia, tetapi juga tampil dalam berbagai forum internasional, menyuarakan kepentingan umat Katolik dari tanah air. Dengan latar belakang akademik yang kuat, yakni gelar doktor dalam Teologi Biblis dari Universitas Kepausan Urbaniana di Roma, Suharyo juga berkontribusi dalam pendidikan rohani sebagai pengajar dan formator.
Baca Juga: Pemerintah Kabupaten Majalengka Salurkan Insentif Rp 5,3 Miliar untuk Guru Honorer
Pada Mei 2025, perhatian tertuju padanya ketika ia dijadwalkan ke Vatikan untuk mengikuti konklaf pemilihan Paus baru, menyusul wafatnya Paus Fransiskus. Sebagai kardinal yang memiliki hak suara, kehadirannya dalam proses pemilihan Paus merupakan bagian penting dari tanggung jawabnya terhadap Gereja Universal.
Meski memiliki peluang dan pengalaman yang luas, Suharyo tak pernah menunjukkan ambisi pribadi untuk menduduki takhta St. Petrus. Sikap ini konsisten dengan moto hidupnya, Serviens Domino cum omni humilitate, yang berarti "Melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati".
Di tengah berbagai jabatan yang pernah ia emban, mulai dari Uskup Agung Semarang hingga Kardinal, Suharyo tetap dikenal sebagai pribadi yang sederhana, terbuka, dan berdedikasi. Ia menetap di Kompleks Gereja Katedral Jakarta dan terus menjalani keseharian dengan komitmen pada pelayanan umat.
Artikel Terkait
Dua Pengedar Narkoba, Sita Sabu Seberat 3,72
Konklaf Dimulai: Dari Asia hingga Afrika, Ini Daftar 16 Kardinal Calon Paus Baru
BPS: Jumlah Pengangguran Indonesia Tembus 7,28 Juta Jiwa per Februari 2025
Anggota Legislatif Majalengka Muh Fajar Shidik Didapuk sebagai Ketua IKA PMII Majalengka 2025–2030
Dukung Program Akselerasi Menteri ImiPas, Lapas Kelas III Gunungtua Lakukan Razia Hunian Warga Binaan