NAWACITAPOST.com - Menyaksikan jalannya debat calon wakil presiden (cawapres) yang menampilkan tiga sosok Cawapres Muhaimin Iskandar, Gibran Rakabuming Raka, dan Mahfud MD pada hari Jumat malam (22/Des/2023) yang lalu, saya seperti sedang menyaksikan perdebatan antara politisi (Muhaimin Iskandar) dan pendekar hukum (Prof Mahfud MD) melawan robot politik yang bernama Gibran Rakabuming Raka.
Saya menjuluki Gibran sebagai robot politik, pertama karena jika saya cermati dari awal presentasinya di forum debat itu. Gibran seperti sedang berbicara sambil mengingat teks-teks yang sebelumnya dihafalkannya. Itulah mengapa apa yang disampaikannya nyaris selalu dimulai dan berakhir tepat pada waktunya.
Berbeda dengan Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD yang terlihat seringkali bicaranya terhenti sebelum atau sesudah waktu yang ditentukan telah habis, meski hanya tinggal atau kelebihan beberapa detik saja.
Baca Juga: Bawaslu Inhu Buka Pendaftaran 1.350 Pengawas TPS, Berikut Persyaratan dan Jadwalnya
Ini merupakan petunjuk pertama dari tanda-tanda orang yang berbicara secara spontan dan tidak melalui hafalan terlebih dahulu yang biasanya cenderung tepat waktu saat mulai dan mengakhiri pembicaraannya.
Kedua, robot politik itu meskipun bisa distel sedemikian rupa, namun kadang pula mengalami konslet juga. Inilah mengapa seorang Gibran sampai mengeluarkan kalimat-kalimat yang rancu seperti Hilirisasi Digital, yang di buku kamus manapun tidak akan pernah dapat ditemukan, kecuali kata Hilirisasi atau Digitalisasi.
Dengan mengatakan hilirisasi digital, di sini Gibran nampak sekali sebagai seorang intelektual dadakan.
Ketiga, korsleting robot politik yang bernama Gibran ini juga terlihat dari berbagai pernyataannya yang ngawur dan tak berdasarkan fakta dan data yang harusnya sudah terlebih dahulu disuguhkan padanya oleh para tim suksesnya.
Ini bisa kita perhatikan dari berbagai kebohongannya atau jika tidak asal bicaranya soal bantuan untuk Kota Solo, kunjungan wisatawan ke Solo yang dikatakannya jauh lebih banyak dibanding wisatawan yang datang ke Yogyakarta.
Menurut Gibran bantuan untuk Kota Solo dikatakannya jauh lebih besar diberikan saat dia sendiri sebelum menjadi Walikota Solo daripada saat ia menjadi Walikota Solo. Padahal faktanya bantuan untuk Kota Solo sebelum Gibran jadi Walikota Solo, menurut mantan Walikota Solo sebelumnya, yakni FX Hadi Rudyatmo, jauh lebih kecil dibandingkan bantuan saat Gibran menjadi Walikota Solo.
Meski demikian, masih menurut Rudy, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Solo masih jauh lebih banyak saat dirinya masih menjabat, dibandingkan dengan PAD Kota Solo saat Gibran menjabat sebagai Walikota Solo.
Baca Juga: PWI Nganjuk dan HMI Gelar Pelatihan Jurnalistik, Ini yang Diharapkan
Gibran juga mengatakan bahwa kunjungan wisatawan yang datang ke Solo di era kepemimpinannya, jauh lebih banyak dibanding Wisatawan yang datang ke Yogyakarta. Padahal menurut Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Wisatawan yang datang ke Yogyakarta (19 April-25 April 2023) itu jauh lebih banyak, yakni 1.655.814 Wisatawan dibandingkan yang ke Solo, yakni 396.280 Wisatawan.