Jumat, 5 Juni 2026

Mengenal Rumah Arwah di Pecinan Semarang, Tradisi Penghormatan Leluhur yang Tetap Terjaga

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Rabu, 19 Februari 2025 | 16:14 WIB
Rumah arwah, dijual dengan harga yang beragam.  (X)
Rumah arwah, dijual dengan harga yang beragam. (X)

NAWACITAPOST.COM - Rumah arwah menjadi bagian penting dalam tradisi masyarakat Tionghoa di Semarang. Ketika memasuki gang sempit di kawasan Pecinan, rumah arwah menjadi pemandangan yang menarik karena keberadaannya mencerminkan penghormatan terhadap leluhur.

Bagi masyarakat Tionghoa, memberikan bekal bagi arwah yang telah meninggal merupakan kewajiban agar mereka dapat hidup dengan layak di alam baka. Rumah arwah ini dibuat dengan desain khusus dan berisi berbagai perabotan, dari kasur hingga mobil, bahkan gunung emas dan gunung perak sebagai simbol kemakmuran di akhirat.

Salah satu pembuat rumah arwah yang telah menjalankan bisnis ini secara turun-temurun adalah Ong Bik Hok. Ia merupakan generasi keempat dalam keluarganya yang mempertahankan tradisi ini sejak tahun 1800-an.

Lokasi usahanya berada di dekat klenteng Hoo Hok Bio, tempat yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat Tionghoa di Semarang. Menurutnya, pesanan rumah arwah biasanya meningkat menjelang Imlek dan saat tradisi tilik kubur dilakukan.

Baca Juga: Dari Indonesia hingga Sri Lanka, Berikut Daftar Negara Penghasil Kelapa Terbesar  

Kepercayaan masyarakat Tionghoa menyebutkan bahwa roh orang yang telah meninggal membutuhkan tempat tinggal agar tidak tersesat di alam baka. Oleh karena itu, rumah arwah beserta perabotannya dibuat dengan detail sesuai permintaan keluarga yang ditinggalkan.

Beberapa permintaan unik seperti ruang karaoke juga pernah dibuat untuk menghormati mendiang yang memiliki hobi menyanyi. Namun, bentuk rumah arwah tidak boleh sama dengan rumah di dunia nyata karena dipercaya dapat membawa kesialan bagi keluarga yang masih hidup.

Setelah rumah arwah selesai dibuat, proses pengirimannya dilakukan melalui ritual pembakaran. Upacara ini disebut Kong Tek, yang biasanya dilaksanakan 40 hingga 49 hari setelah kematian.

Dalam kepercayaan Tionghoa, membakar rumah arwah akan membantu roh yang telah meninggal agar dapat menerima bekal yang dikirimkan. Tanpa rumah di akhirat, arwah yang meninggal diyakini bisa tersesat dan tidak memiliki tempat tinggal.

Baca Juga: Institut Leimena dan Kementerian HAM Perkuat Pendidikan HAM di Indonesia  

Keberadaan rumah arwah bukan sekadar benda simbolik, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang masih terus dilestarikan. Tradisi ini menjadi bukti bagaimana masyarakat Tionghoa menghormati leluhur dan menjaga keseimbangan antara dunia yang terlihat dan yang tak kasat mata.

Adapun, satu Rumah Arwah itu dijual dengan harga yang beragam. Mulai dari Rp 2 juta hingga Rp 12,5 juta berdasarkan ukuran dan kesulitan. Di tengah perkembangan zaman, praktik ini tetap bertahan sebagai salah satu bentuk penghormatan terakhir bagi mereka yang telah pergi.

 

 

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini