Kegiatan ini akan menjadi wadah konsolidasi bagi seluruh elemen keagamaan dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan di Indonesia.
"The power of we…,kepada kemua peserta, tanpa melihat etnis, pangkat dan latar belakang dari yang hadir sebagai suatu kesatuan bhineka tunggal ika", ujar Prof Dr Nasaruddin dalam keterangan persnya.
Selanjutnya, Nasaruddin mengatakan bahwa The power of We, kekuatan dan kedasyatan dari semua & siapa saja yang hadir pada Interfaith Walk 2023.
"Pada 17 Agustus 2023 yang lalu baik Masjid Istiqlal maupun Gereja Katedral merayakan upacara bendera bersama sebagai tanda dukungan semua umat beragama, etnis, golongan kepada Negara Republik Indonesia, berarti Masjid Istiglal ini menciptakan melting pot, Indonesia mini untuk seluruh agama & etnis di Indonesia" paparnya.
Dalam memperingati hari Santri. Santri itu adalah siapapun punya jiwa keagamaan dalam batinnya dan punya komitmen religiousitas dalam hatinya serta mengamalkan komitmen nya itu dalam bentuk kehidupan bermasyarakat, maka sesungguhnya dapat disebut dengan santri atau Candri dalam Bahasa Jawa Kuno dari Bahasa Hindu Sansekerta.
"Maka semua yang hadir pada acara Interfaith Walk 2023 dan mengamalkan komitmen beragamanya adalah juga seorang santri, apapun agamanya, sebagai hikmah merayakan hari Santri", ujarnya.
Prof Nasaruddin Umar menjelaskan Empat bulan lagi kita akan memasuki masa Pemilihan Umum, sebentar lagi kita akan memilih Kepala Negara yang terbaik untuk memimpin Indonesia.
"Biarkanlah meskipun orang tersebut berbeda, tetapi kita tetap utuh dan satu. Jadi Imam Besar menghimbau agar kita sebagai umat beragama memberikan contoh berpartisipasi dengan tujuan memilih pemimpin yang terbaik," paparnya.