Kamis, 4 Juni 2026

Pengguna Paylater 16,5 Juta, Didominasi Generasi Milenial    

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Selasa, 21 Januari 2025 | 16:56 WIB
Milenial dominasi utang paylater.  (X)
Milenial dominasi utang paylater. (X)

NAWACITAPOST.COM - PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mengungkapkan bahwa pengguna layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater didominasi oleh generasi milenial dan generasi Z hingga November 2024. Generasi milenial, yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996, menyumbang 48,27% pengguna, sementara generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, menyumbang 39,94%.

Generasi X, kelahiran 1965 hingga 1980, berkontribusi sebesar 11,35%. Direktur Utama IdScore, Tan Glant Saputrahadi, dalam Media Gathering di Jakarta pada 16 Januari 2025, menjelaskan bahwa total pengguna BNPL mencapai 16,5 juta debitur.

“Kalau dari sisi pengguna, pengguna itu yang paling banyak memakai itu gen Z dan gen milenial,” kata Tan Glant Saputrahadi.

Jumlah fasilitas kredit yang diberikan kepada pengguna tersebut mencapai Rp48,4 juta per Oktober 2024, dengan rata-rata setiap debitur memanfaatkan tiga fasilitas kredit. Dari sisi tujuan penggunaan, transaksi melalui QRIS menjadi yang paling banyak dilakukan, mencapai 41,9%.

Citramaja City, tempat hunian modern yang menawarkan kenyamanan, kemudahan, dan keharmonisan hidup. (Instagram)

Selanjutnya, pembelian melalui e-commerce menyumbang 33%, diikuti pembelian tiket atau hotel sebesar 21,1%, dan pembelian langsung di toko seperti elektronik sebesar 4%. Portofolio kredit BNPL secara keseluruhan mencapai Rp35,14 triliun per November 2024, meningkat 24,53% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski penyaluran kredit meningkat, IdScore mencatat penurunan tingkat risiko kredit macet atau non-performing loan (NPL) dari 6,66% menjadi 3,21% pada periode yang sama. Glant menjelaskan bahwa penurunan NPL dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk masuknya bank umum ke industri BNPL.

Bank memiliki pengelolaan kredit dan data transaksi yang lebih baik, sehingga meningkatkan kualitas kredit. Selain itu, peran Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) melalui skema loan channelling turut mengubah penilaian risiko kredit.

Penerapan regulasi yang lebih ketat, seperti pembatasan usia minimum, status pernikahan, dan penghasilan minimum juga berkontribusi pada penurunan risiko. Kesadaran pengguna terhadap risiko kredit paylater yang semakin meningkat juga menjadi salah satu faktor penting.

Baca Juga: Mengubah Limbah Jadi Berkah: Kisah Inspiratif Nasabah PNM Mekaar di Makassar

Sebagai tambahan, Glant mengungkapkan bahwa penyelesaian kredit macet di LPBBTI mengalami penurunan signifikan, dari Rp1,24 triliun menjadi Rp0,55 triliun. Hal ini menunjukkan pengelolaan risiko kredit yang lebih baik dalam industri BNPL.

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini