Dalam kesehariannya, Ida Bagus Giri dikenal sebagai sosok yang menggunakan hidupnya untuk hal yang besar, seorang nasionalis, yang juga memiliki ketertarikan kepada dunia sastra dan spiritual.
Pada tahun 1946, dirinya mendirikan grup seni musik, sandiwara dan drama, serta menjadi murid di sebuah pondokan yang dipimpin oleh pamannya di Banjar.
Demi mencukupi kebutuhan hidupnya, Ida Bagus Giri menjalani hidup sebagai seorang pedagang diikuti dengan kehausannya akan spiritual.
Dirinya kemudian melakukan pelatihan meditasi pandangan terang (Vipassana), yang dilaksanakan di daerah Sungai Kasap, Watugong, dengan bimbingan Bhikkhu Ashin.
Perjalanan spiritual itu kemudian membawa Ida Bagus Giri hidup sebagai pandita agama Buddha selama 1tahun (1960-1961) dan 5 tahun samanera (1961-1966).
Beliau kemudian ditahbiskan di Srilanka pada tahun 1966 dan memasuki kehidupan selibat dengan nama Girirakkhito, yang berarti "Penjaga Gunung".
Bhante Girirakkhito Mahatera diberi gelar "Yang Mahir di dalam Membawakan Dhamma yang Sejati", atau "Saddhama Kovida Vicitta Bhanaka", oleh Sangha Ramanna Nikaya, Srilanka. Juga memiliki gelar "Seseorang Yang Mulia, Yang Membuat Sasana, atau "Sasana Pasadeka Siri", yang diberikan oleh Sangha Theravada Indonesia.
Bhikkhu Girirakkhito Mahatera tutup usia pada 5 Januari 1997, di usia 70 tahun kurang 7 hari. Almarhum lalu dikremasi tepat di hari ulang tahunnnya ke-70.
"Sepanjang beliau berkarya sebagai seorang Sramana, sudah banyak lagu Buddhis yang diciptakan. Meskipun beliau telah wafat 26 tahun lalu, karya-karya beliau masih tetap hidup bagi umat Buddha yang berjuang melatih diri," tutup pernyataan dari Samaggi Phala, dalam rilis yang dibagikan kepada awak media.