Rykov menyebut bahwa Rusia menekankan masalah yang sangat penting adalah mencapai persatuan antar-Palestina pada platform politik Organisasi Pembebasan Palestina.
Pada akhir Februari dan awal Maret 2024, Moskow menyelenggarakan pertemuan yang membuahkan hasil dari semua faksi Palestina.
Tiongkok baru-baru ini menyelenggarakan pertemuan perwakilan dari semua gerakan Palestina, yang menghasilkan penandatanganan deklarasi. Namun, prosesnya belum berakhir.
"Pencapaian tujuan-tujuan mendesak ini akan menciptakan kondisi yang menguntungkan untuk memulai kembali perundingan damai berdasarkan landasan hukum internasional yang diakui secara umum demi kepentingan pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat yang hidup berdampingan secara damai dan aman dengan Israel. Hanya dalam kasus tersebut, ketidakadilan historis sehubungan dengan bangsa Palestina dan hak fundamentalnya untuk menentukan nasib sendiri akan diperbaiki," ungkap Alexey Rykov menutup paparannya.
Di akhir webinar, moderator Widitusha Winduhiswara dalam catatan penutup menyebut Rusia memandang Asia Barat sebagai wilayah vital untuk memperluas pengaruhnya dan mengimbangi kekuatan Barat, khususnya Amerika Serikat.
Dengan memantapkan dirinya sebagai pemain kunci dalam urusan Asia Barat, Rusia berupaya untuk memproyeksikan kekuatan di luar batas wilayahnya, mengamankan sisi selatannya, dan mencegah penyebaran ketidakstabilan yang dapat memengaruhi keamanannya sendiri, khususnya di Kaukasus dan Asia Tengah.
Keterlibatan militer Rusia di Suriah sejak 2015 merupakan manifestasi paling nyata dari komitmennya terhadap kawasan tersebut.
Keterlibatan ini juga menunjukkan kesediaan Rusia untuk melindungi sekutu dan kepentingannya, yang sering kali bertentangan dengan kebijakan Barat.
Timur Tengah merupakan wilayah penting bagi pasokan energi global, dan Rusia, sebagai salah satu produsen energi terbesar di dunia, memiliki kepentingan pribadi dalam menjaga stabilitas di pasar energi.
Selain itu, kemitraan Rusia dengan pemain regional utama seperti Iran, Turki, dan Arab Saudi sangat penting untuk mengoordinasikan produksi dan harga minyak melalui mekanisme seperti OPEC+.
Secara keseluruhan, keterlibatan Rusia di Asia Barat didorong oleh kombinasi strategi geopolitik, kepentingan ekonomi, dan keinginan untuk menegaskan dirinya sebagai kekuatan global di dunia multipolar.
Sementara itu dalam sambutannya membuka webinar, Sekjen GSC Furqan AMC, menyampaikan bahwa Majelis Kritis GSC ini merupayaka upaya berkesinambungan untuk memahami dunia merawat Indonesia sebagaimana visi dari GSC yang didirikan 15 Oktober 2016 yang lalu.
Artikel Terkait
Koordinasi Kepolisian Bengkulu dengan Kantor Imigrasi Bengkulu untuk Bantu WNA Asal Rusia
Liberti Sitinjak Serahkan Sertifikat Perdana Apostille Dengan Tujuan Rusia
Imigrasi Ngurah Rai Berhasil Amankan Buronan Interpol Asal Rusia
Putin Raih Kemenangan Telak dalam Pilpres Rusia 2024
Prabowo Sebut Rusia sebagai 'Teman Baik', Ungkap Peran Krusial dalam Dukungan Militer Indonesia