Kamis, 4 Juni 2026

7 Tradisi Pernikahan Unik, dari Ludahi Pengantin hingga Kawin Colong dari Indonesia

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Rabu, 17 Juli 2024 | 14:31 WIB
Ilustrasi pernikahan.  (Pexels)
Ilustrasi pernikahan. (Pexels)

NAWACITAPOST.COM - Pernikahan adalah momen yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Setiap budaya memiliki cara unik untuk merayakan pernikahan, dengan tradisi dan ritual yang mencerminkan nilai-nilai dan kepercayaan mereka.

Di antara berbagai tradisi pernikahan yang menarik perhatian dari seluruh dunia, dua tradisi unik berasal dari Indonesia. Beberapa tradisi pernikahan ini mungkin terdengar aneh atau tidak biasa bagi sebagian orang, tetapi memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat setempat.

Berikut adalah beberapa tradisi pernikahan yang unik dari berbagai negara:

1. Kenya: Meludahi Pengantin

Di Kenya, khususnya di suku Maasai, terdapat tradisi di mana ayah pengantin wanita meludahi kepala dan payudara putrinya sebelum dia pergi bersama suaminya. Meludah dalam budaya Maasai dianggap sebagai simbol keberuntungan dan restu.

Selain dalam konteks pernikahan, meludah juga digunakan sebagai tanda hormat dalam interaksi sehari-hari. Misalnya, warga setempat meludahi tangan sebelum berjabat tangan dengan orang yang lebih tua.

Baca Juga: Studi Menarik: Poligami Bikin Hidup Lebih Lama

2. Skotlandia: Penghitaman

Di Skotlandia, sehari sebelum pernikahan, pasangan pengantin akan mengalami "penghitaman". Teman-teman mereka akan mengguyur mereka dengan campuran air gula, jelaga, bulu, dan tepung, kemudian mengarak mereka di jalan-jalan.

Tradisi ini dipercaya untuk mengusir roh jahat dan mempersiapkan pasangan untuk menghadapi tantangan dalam pernikahan. Ritual ini umum dilakukan di daerah seperti Kepulauan Orkney, Fife, Aberdeenshire, dan Angus.

3. Indonesia: Kawin Colong

Kawin colong merupakan adat pernikahan khas Suku Osing di Banyuwangi, Jawa Timur. Dalam tradisi ini, pengantin laki-laki secara diam-diam membawa calon pengantin perempuan ke rumahnya.

Selanjutnya, keluarga laki-laki mengirimkan seorang utusan, biasanya seorang sesepuh desa, untuk memberitahukan keluarga perempuan tentang keberadaan anak mereka. Setelah menerima kabar tersebut, keluarga perempuan akan datang ke rumah pengantin laki-laki untuk memastikan bahwa putri mereka baik-baik saja. Kedua keluarga kemudian berdiskusi untuk menentukan tanggal pernikahan resmi.

Baca Juga: Manfaat Poligami: Mengapa Praktek Ini Masih Relevan di Zaman Modern?

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini