Kamis, 4 Juni 2026

Profil Buya Syafii Maarif: Sang Pemikir Moderat Islam

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Jumat, 5 April 2024 | 11:25 WIB
Buya Syafii Maarif. (X)
Buya Syafii Maarif. (X)

NAWACITAPOST.COM - Pada Jumat, 27 Mei 2022 lalu, Indonesia kehilangan sosok ulama kharismatik, Ahmad Syafii Maarif, yang akrab disapa Buya Syafii Maarif. Ia meninggal dunia setelah mengalami serangan jantung yang kedua kalinya.

Mengenal lebih jauh tentang sosok Buya Syafii Maarif, ia dilahirkan pada 31 Mei 1935 di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Sumatra Barat. Ayahnya, Ma’rifah Rauf Datuk Rajo Malayu, adalah seorang kepala suku dan saudagar. Ibunya, Fathiyah, wafat ketika Ahmad Syafii masih berusia 18 bulan.

Pendidikan Buya Syafii Ma'arif dimulai di Sekolah Rakyat (SR) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah. Saat perang revolusi kemerdekaan terjadi, ia tidak mendapatkan ijazah dari SR.

Setelah itu, Buya Syafii Ma'arif melanjutkan ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah Balai Tangah, Lintau. Kemudian merantau ke Yogyakarta pada tahun 1953 untuk melanjutkan pendidikan di Madrasah Muallimin Yogyakarta.

Baca Juga: Buya Syafii Maarif Tokoh Toleransi Indonesia Tutup Usia

Pada usia 21 tahun, Buya Syafii Maarif pergi ke Lombok untuk menjadi guru di sebuah kampung bernama Pohgading. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Cokroaminoto dan Universitas di Amerika Serikat.

Buya Syafii Maarif pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah selama tujuh tahun, dari 1998 hingga 2005. Ia juga pernah menjabat sebagai Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP).

Setelah pensiun sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Syafii aktif dalam komunitas Maarif Institute dan menjadi tokoh yang sering menyampaikan kritik secara objektif dan lugas melalui tulisan-tulisannya di berbagai media.

Pada tahun 2008, Buya Syafii Maarif mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Filipina. Karya-karyanya juga diabadikan dalam novel berjudul 'Si Anak Kampung' karya Damien Demantra yang kemudian difilmkan dan meraih penghargaan di America International Film Festival (AIFF).

Baca Juga: Profil Rumy AlQahtani Kontestan Pertama Arab Saudi di Miss Universe

Buya Syafii Maarif dinilai memiliki kepedulian di atas rata-rata orang Indonesia terhadap masa depan negara-bangsa ini. Obsesinya tentang Islam berkemajuan dan Indonesia yang bangkit dari keterpurukan tak pernah padam hingga menjelang tutup usia.

Menarik digarisbawahi salah satu poin penting kesimpulan disertasi Buya Syafii Maarif di Chicago University. Menurutnya, berbicara secara intelektual, masa depan Islam di Indonesia tampaknya akan banyak bergantung kepada berhasil atau gagalnya umat Islam merumuskan kembali hukum-hukum syariah untuk memenuhi kebutuhan umat sekarang ini.

Menurutnya, proses Islamisasi yang cepat dan hebat dalam masyarakat kontemporer Indonesia, benar-benar menuntut suatu bingkai kerja intelektual yang kukuh, di dalam prinsip-prinsip moral dan etik Al-Quran dapat diformulasikan dengan penuh makna dan sistematis, dan kemudian di atas landasan inilah, prinsip-prinsip Islam yang lain ditegakkan dengan mantap. Dalam jangkauan maknanya yang komprehensif inilah sebenarnya, peran utama dari kerja ijtihad.

Di awal era reformasi, Buya Syafii Maarif aktif dalam gerakan moral anti korupsi. Gerakan moral tersebut dideklarasikan Oktober 2003. Dalam autobiografinya, Buya Syafii Maarif menulis mengenai hal itu.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini