Baca Juga: Yusril Ihza Mahendra: Kubu Paslon 1 dan 3 Sulit Menangkan Gugatan Sengketa Pemilu di MK
Kini, YIM setelah mendapatkan kembali proyeknya untuk menjadi tim kuasa hukum pasangan calon (paslon) capres 02 Prabowo-Gibran, YIM mengatakan hal yang lain. Katanya, tidak ada dalil argumentasi hukum yang dapat dijadikan dasar pembatalan keputusan KPU terhadap penetapan Paslon Capres-Cawapres 2024 Prabowo-Gibran, dan penetapan KPU terhadap hasil suara Pilpres 2024.
YIM politisi badut yang tidak pernah berusaha menggunakan hati nuraninya untuk memimpin pikiran, ucapan dan tindakannya. Karenanya, tindakan YIM terlihat dan terasa selalu kosong dan hampa komitmen juang kerakyatannya.
YIM selalu berusaha membela penguasa meskipun penguasa itu jauh lebih tertarik untuk memperjuangkan kepentingan pribadi dan keluarganya, daripada kepentingan bangsa dan negaranya. Penguasa yang alergi dengan suara-suara kritis rakyatnya sendiri, sehingga harus menerjunkan para intel untuk memata-matai dan menangkapi rakyat kritisnya sendiri.
Sebagai informasi, perempuan cerdas, anggun yang sangat tegas dan lugas dalam menyampaikan kritik-kritiknya pada Pemerintahan Jokowi akhir-akhir ini, dan yang sangat populer sebagai analis militer paling terdepan saat ini, yakni Connie Rahakundini Bakrie kembali dilaporkan seseorang berinisial AK (24), ke Polres Metro Jakarta Selatan atas dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks di media sosial.
Baca Juga: Profesor Yusril Ihza Mahendra : Jokowi Tak Bisa Dimakzulkan
Connie sendiri menyatakan pada saya, bahwa ia tidak tahu siapa inisial AK yang berusia 24 tahun yang telah melaporkannya ke Polda Metro Jakarta Selatan itu.
Inilah mental rezim Jokowi yang semakin hari semakin menyamai rezim Orde Baru Soeharto. Selalu berusaha mestimulus orang-orang untuk mempersoalkan rakyat kritisnya sendiri melalui berbagai cara.
Celakanya, politisi-politisi badut atau orang-orang seperti YIM itu selalu saja ada di setiap zamannya, untuk mendukung otoriterianisme penguasa dengan berbagai macam argumentasi dan penampilan muka duanya.
Kaum nasionalis, patriotik harus berani menghadapi politisi-politisi badut seperti dia dan penguasa tiran yang didukungnya. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan argumentasi logika rasional, dan cetusan-cerusan pikiran revolusionernya! Merdeka!
Artikel Terkait
Kepentingan Sesaat, Saiful Huda EmS Prediksi Kemesraan Jokowi-Prabowo akan Retak
Saiful Huda EmS: Jokowi Tak Sehebat Mesin Politik PDIP, Ini Alasannya!
Honeymoon Politik Usai, Pakar: Jokowi vs Prabowo Bakal Adu Kekuasaan
Saiful Huda EmS: Jokowi "Anak Durhaka" dari PDIP, Harus Cari Perlindungan
JK: Jokowi Tidak Memenuhi Syarat Menjadi Ketua Umum Partai Golkar