Rabu, 7 Oktober 2026

Langkah Tertahan, Indonesia Masih Terpaku di Bawah Malaysia dalam Klasifikasi FTSE Russell

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Rabu, 7 Oktober 2026 | 15:58 WIB
Satu kegiatan di lantai Bursa Efek Indonesia. Vietnam kini sejajar dengan Indonesia dalam klasifikasi pasar saham FTSE Russell setelah naik dari kategori. (IDX)
Satu kegiatan di lantai Bursa Efek Indonesia. Vietnam kini sejajar dengan Indonesia dalam klasifikasi pasar saham FTSE Russell setelah naik dari kategori. (IDX)

NAWACITAPOST.COM  — Pasar saham Indonesia masih belum mampu mengimbangi langkah negara tetangga dan harus puas tertahan satu tingkat di bawah Malaysia dalam peta persaingan pasar modal global.
 
Berdasarkan klasifikasi terbaru FTSE Russell, Indonesia masih harus mengelus dada berada di kelompok Secondary Emerging, sementara Malaysia mantap menempati Advanced Emerging dan Singapura melaju jauh di kategori pasar maju (Developed).

Posisi tegas tersebut terungkap dalam laporan FTSE Equity Country Classification September 2026 Annual Announcement yang diterbitkan pada 6 Oktober 2026.
 
 
Lembaga pemeringkat global ini membagi pasar saham dunia ke dalam empat tingkatan: Developed, Advanced Emerging, Secondary Emerging, dan Frontier.

Dalam peta pergerakan modal internasional ini, Singapura kini sejajar dengan raksasa ekonomi dunia seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Korea Selatan.
 
Sementara itu, Malaysia berada di kasta yang sama dengan Thailand, Taiwan, Brasil, Meksiko, dan Afrika Selatan. Indonesia justru harus rela merayap di kategori Secondary Emerging berdampingan dengan Filipina, China, India, serta Vietnam yang baru saja naik kelas dari kategori Frontier.

Meski skala ekonomi nasional terus tumbuh, pengelompokan ini murni mengacu pada metodologi pasar saham FTSE Russell, bukan indikator besarnya PDB maupun tingkat imbal hasil investasi suatu negara.

Dalam tinjauan tahunan terbarunya, FTSE Russell memilih untuk menahan posisi pasar modal tanah air tanpa adanya kenaikan kasta.
 

“Status Indonesia sebagai pasar Secondary Emerging tetap tidak berubah,” tulis FTSE Russell dalam laporan resmi tersebut.

Reformasi Pasar Modal Terus Dibayang-Bayangi Evaluasi

Di tengah ketertinggalan kelas dari Malaysia dan Singapura, efektivitas pembenahan benteng pasar modal Indonesia rupanya masih terus disorot dan diuji oleh para pelaku pasar internasional.

“FTSE Russell terus memantau secara saksama reformasi integritas pasar modal di Indonesia,” tegas FTSE Russell dalam laporannya.

FTSE Russell mencatat Indonesia sebenarnya telah melancarkan berbagai jurus reformasi, mulai dari peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham, perluasan kategori klasifikasi investor, pengetatan ketentuan minimum saham beredar di publik (free float), hingga penguatan perangkat pengawasan pasar.
 
Langkah-langkah krusial tersebut dirancang demi menjawab keraguan global terkait transparansi data dan kemampuan investor dalam mereplikasi indeks.
 

Kendati demikian, efektivitas pembenahan ini belum sepenuhnya tuntas. Evaluasi dan masukan dari para pelaku pasar global masih terus dikumpulkan untuk menentukan nasib pasar modal Indonesia ke depan.

Sebelumnya, serangkaian perubahan indeks untuk Indonesia bahkan sempat tertunda pada evaluasi Maret, Juni, dan September 2026.
 
FTSE Russell kini sedang menilai apakah reformasi yang diterapkan dapat mendukung kembalinya proses evaluasi indeks standar secara tertib dan stabil.

Di balik kabar penundaan tersebut, Indonesia setidaknya masih bisa bernapas lega karena tidak masuk ke dalam jurang penalti atau daftar pantauan pemangkasan status.

“FTSE Russell tidak menempatkan Indonesia dalam Watch List,” tulis FTSE Russell.
 
Baca Juga: Gugatan Ijazah Gibran Ditolak MK, Tim Kuasa Hukum Langsung Sujud Syukur

Sinyal Bahaya dari Lonjakan Vietnam

Ancaman sengit justru datang dari Vietnam yang sukses mencatatkan lompatan dramatis.
 
Vietnam resmi melepaskan status pasar berkembang tingkat bawah (Frontier) dan naik kelas bergabung ke kelompok Secondary Emerging bersama Indonesia dan Filipina per 21 September 2026.

Kenaikan kelas Vietnam dieksekusi secara bertahap, dimulai dengan porsi 10 persen pada September 2026 dan berlanjut pada tiga gelombang berikutnya sepanjang Maret, Juni, hingga September 2027.
 
Akselerasi Vietnam ini kian memperketat persaingan regional di saat Malaysia dan Thailand kokoh di Advanced Emerging, serta Singapura nyaman di kategori Developed.
 

FTSE Russell dijadwalkan akan menyampaikan pembaruan penting mengenai perlakuan terhadap saham-saham Indonesia menjelang evaluasi indeks Desember 2026.
 
Keputusan mendatang akan menjadi pertaruhan penting yang memperhitungkan sejauh mana kemajuan reformasi pasar modal tanah air serta respons dari para pemangku kepentingan global.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tiarsin

Tags

Artikel Terkait

Terkini