“Rakyat akan merasakan kesejahteraan apabila ada tindakan dan upaya mengerahkan otak serta pemikiran bagaimana bisa mensejahterakan,” ujarnya.
Sementara itu, landasan ketiga adalah Surah Adz-Dzariyat ayat 56:
“Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun.”
Kyai Miftah menekankan, ayat tersebut mengingatkan bahwa seluruh aktivitas manusia pada akhirnya harus bermuara pada pengabdian kepada Allah SWT.
Karena itu, pembangunan ekonomi maupun pengelolaan kekayaan alam tidak boleh hanya mengejar kemegahan dan keuntungan material.
Semua aktivitas tersebut harus diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Jangan sampai apa yang kita lakukan tidak memiliki nilai ibadah. Jangan sampai kita membangun sesuatu yang megah, tetapi tidak memiliki nilai ibadah,” tegasnya.
Ekonomi Keumatan Jadi Perhatian NU
KH Miftachul Akhyar menilai NU memiliki modal sumber daya manusia yang besar untuk mengembangkan berbagai sektor kehidupan. Di bidang pendidikan dan kesehatan, NU disebut telah memiliki banyak tokoh dan pakar yang dapat menjadi kekuatan organisasi.
Karena itu, sektor ekonomi keumatan dinilai perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar dalam perjalanan NU ke depan.
“Di bidang pendidikan dan kesehatan sudah ada pakarnya. Ada Prof. Nuh. Tinggal bagaimana kita memperkuat ekonomi keumatan,” katanya.
Penguatan ekonomi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan ekonomi organisasi, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap kehidupan warga NU dan masyarakat secara luas.
Rais Aam PBNU terpilih itu berharap kepemimpinan NU periode mendatang mampu melakukan perbaikan terhadap berbagai kekurangan yang masih ada. Ia juga berharap ikhtiar keumatan yang dijalankan NU mendapat dukungan dan perhatian pemerintah.
“Semoga perjalanan keumatan ke depan membawa perbaikan dan mampu menutup berbagai kekurangan yang ada. Semoga pemerintah juga memperhatikan berbagai upaya yang dilakukan demi umat dan kemaslahatan rakyat bersama,” pungkasnya. ***