Senin, 31 Agustus 2026

Pesan Ning Yenny Wahid untuk AHWA: Jadilah Nahkoda yang Mampu Menjaga Bahtera Besar NU

Photo Author
Ninis Indrawati, Nawacita Post
- Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:59 WIB
Zannuba Ariffah Chafsoh atau Ning Yenny Wahid saat ditemui dalam sesi doorstop di sela-sela Muktamar ke-35 NU di Jombang, Minggu (30/8/2026).
Zannuba Ariffah Chafsoh atau Ning Yenny Wahid saat ditemui dalam sesi doorstop di sela-sela Muktamar ke-35 NU di Jombang, Minggu (30/8/2026).

Jombang, Nawacitapost.com — Bahtera besar Nahdlatul Ulama (NU) tengah memasuki fase penting. Di tengah dinamika Muktamar ke-35 NU di Jombang, perhatian tidak hanya tertuju pada siapa yang akan memimpin organisasi, tetapi juga kepada para ulama yang dipercaya menjadi anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA).

Harapan besar pun disematkan kepada para ulama tersebut. Mereka diharapkan mampu menjadi penjaga arah sekaligus penentu langkah strategis NU dalam menghadapi tantangan organisasi dan perubahan zaman.

Pesan itu disampaikan Zannuba Ariffah Chafsoh atau Ning Yenny Wahid saat ditemui dalam sesi doorstop di sela-sela Muktamar ke-35 NU di Jombang, Minggu (30/8/2026).

Direktur Wahid Institute itu menilai para ulama yang terpilih sebagai anggota AHWA merupakan tokoh yang memiliki kapasitas keilmuan dan pemahaman agama yang kuat. Karena itu, ia menaruh harapan besar terhadap keputusan yang akan mereka ambil.

“Kalau yang kita lihat, semuanya yang terpilih adalah alim dan faqih. Jadi, kita menaruh harapan besar bahwa beliau-beliau bisa mengambil keputusan yang paling pas,” ujar Ning Yenny.

Menurutnya, posisi AHWA tidak semata-mata berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam forum Muktamar. Lebih jauh, para ulama tersebut memiliki peran strategis dalam memastikan perjalanan NU tetap berada pada jalur yang tepat.

Harapan itu menjadi semakin penting karena NU merupakan organisasi dengan jumlah warga yang besar serta memiliki latar belakang, karakter, dan pandangan yang beragam.

Bagi Ning Yenny, keberagaman tersebut bukan persoalan yang harus dihindari, melainkan kekuatan yang perlu dikelola dengan kebijaksanaan.

Di sinilah AHWA dinilai memiliki posisi penting. Keluasan ilmu, pengalaman, serta keteladanan para ulama diharapkan dapat menjadi penuntun ketika NU menghadapi perbedaan pandangan maupun berbagai kepentingan yang muncul dalam organisasi.

“Kita berharap beliau-beliau bisa menjadi nahkoda bagi NU untuk mengarungi keberagaman yang ada,” pungkas Ning Yenny.

Pernyataan tersebut menjadi pesan penting di tengah berlangsungnya Muktamar ke-35 NU. Forum tertinggi organisasi ini tidak hanya akan menentukan kepemimpinan NU ke depan, tetapi juga menjadi momentum untuk menentukan bagaimana organisasi besar tersebut menavigasi berbagai tantangan di masa mendatang.

Kepemimpinan yang lahir dari Muktamar diharapkan mampu menjaga persatuan warga Nahdliyin, merawat tradisi keilmuan dan keagamaan NU, sekaligus merespons perubahan sosial yang terus bergerak.

Pada akhirnya, AHWA diharapkan tidak sekadar menjadi bagian dari mekanisme Muktamar. Mereka diharapkan mampu menjalankan fungsi sebagai penjaga kompas organisasi, sehingga bahtera besar NU tetap memiliki arah yang jelas dan mampu berlayar melewati derasnya dinamika zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Editor: Elya Yuddy Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini