Minggu, 12 Juli 2026

PEWARNA Gelar Seminar Nasional: Menggugah Kesadaran Spiritual untuk Menyelamatkan Warisan Percandian Nusantara

Photo Author
Restu Zebua, Nawacita Post
- Kamis, 7 Mei 2026 | 13:16 WIB
Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia Gelar Seminar Nasional (Foto: PEWARNA)
Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia Gelar Seminar Nasional (Foto: PEWARNA)

NAWACITAPOST.COM — Di tengah ancaman krisis iklim dan lunturnya kepedulian terhadap warisan budaya bangsa, Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) kembali menggugah kesadaran publik melalui Seminar Nasional bertema “Merajut Spiritualitas, Membongkar Sejarah Percandian Indonesia.” Seminar yang berlangsung di Aula Utama Yayasan Sangha Theravada Indonesia, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2026), menjadi panggung pertemuan lintas iman, lintas budaya, dan lintas generasi untuk merenungkan kembali hubungan sakral antara manusia, alam, dan jejak peradaban leluhur.

Suasana seminar terasa begitu khidmat sekaligus menggugah. Para tokoh agama, budayawan, akademisi, jurnalis, hingga pegiat lingkungan duduk bersama dalam satu semangat kebangsaan: menyelamatkan bumi dan menjaga warisan leluhur yang mulai tergerus zaman.

Ketua Umum PEWARNA, Yusuf Mujiono, dalam sambutannya mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak melupakan akar peradaban Nusantara. Ia menegaskan bahwa menjaga candi dan kelestarian alam bukan sekadar tugas budaya, melainkan bentuk pertanggungjawaban spiritual manusia kepada Tuhan.

“Warisan leluhur seperti candi bukan hanya peninggalan sejarah. Ia adalah pesan peradaban yang mengajarkan manusia hidup selaras dengan alam,” ungkapnya penuh penekanan.

Seminar ini menghadirkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai keynote speaker, bersama tokoh spiritual Banthe Dhamosubho Mahatera, pegiat advokasi budaya Joe Marbun, serta jurnalis PEWARNA Ashiong P. Munthe.

Dalam paparannya, Fadli Zon menyampaikan pesan yang mengguncang kesadaran peserta seminar. Ia menegaskan bahwa candi-candi yang tersebar dari Sumatera hingga Jawa bukanlah sekadar tumpukan batu tua atau monumen bisu tanpa makna. Menurutnya, setiap relief dan susunan batu candi merupakan “manuskrip visual” yang merekam cara pandang leluhur Nusantara terhadap alam semesta.

“Candi-candi kita dibangun di lereng gunung, dekat sumber mata air, dan berada di tengah ekosistem yang terjaga. Itu menunjukkan bahwa leluhur kita memahami keseimbangan alam sebagai bagian dari spiritualitas,” ujar Fadli.

Ia juga menekankan bahwa pendekatan pelestarian candi tidak boleh berhenti pada aspek fisik dan arkeologis semata. Kementerian Kebudayaan, katanya, kini mendorong agar kawasan percandian dipahami sebagai pusat kehidupan berkelanjutan—ruang spiritual yang menyatu dengan ekologi.

Dalam refleksinya, Fadli mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini bukan hanya persoalan sosial atau politik, melainkan juga krisis spiritual manusia modern. Ia menyinggung ancaman perubahan iklim yang kini semakin nyata dirasakan dunia.

“Climate change itu nyata. Ketika manusia merusak alam, sesungguhnya manusia sedang memutus nilai-nilai ketuhanan yang diwariskan leluhur,” tegasnya.

Karena itu, menurutnya, pemulihan ekologi harus dimulai dari kesadaran religius. Di sinilah konsep ekoteologi menjadi sangat relevan—bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah. Relief-relief flora dan fauna pada candi menjadi bukti bahwa leluhur Nusantara telah menempatkan pelestarian alam sebagai standar spiritual yang luhur.

Sementara itu, Banthe Dhamosubho Mahatera memaparkan betapa agungnya peradaban leluhur Nusantara yang meninggalkan jejak percandian luar biasa, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di sejumlah negara tetangga.

Dengan penuh kekaguman, ia menyinggung kemegahan Candi Borobudur sebagai bukti nyata kecanggihan teknologi leluhur bangsa. Presisi bangunan Borobudur, menurutnya, menunjukkan bahwa nenek moyang Nusantara telah memiliki peradaban tinggi jauh sebelum dunia modern berkembang seperti sekarang.

“Candi-candi ini adalah karya anak bangsa. Ketika dikelola dengan baik, warisan ini seharusnya menjadi kebanggaan nasional dan membawa dampak positif bagi masyarakat,” ujarnya.

Halaman:

Editor: Restu Zebua

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini