Sabtu, 18 Juli 2026

Menag Serukan Green Jihad, Zakat dan Wakaf Kini Diarahkan untuk Transisi Energi Bersih

Photo Author
Tiarsin Nawacita, Nawacita Post
- Kamis, 5 Maret 2026 | 17:02 WIB
Ilustrasi Menag Nasaruddin Umar Serukan Green Jihad, Zakat dan Wakaf Kini Diarahkan untuk Transisi Energi Bersih (Ai)
Ilustrasi Menag Nasaruddin Umar Serukan Green Jihad, Zakat dan Wakaf Kini Diarahkan untuk Transisi Energi Bersih (Ai)

NAWACITAPOST.COMMenteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, melakukan langkah terobosan dalam diskursus perubahan iklim global dengan mengintegrasikan instrumen keuangan syariah ke dalam aksi pelestarian lingkungan.

Dalam forum Ifthar Diplomatic Roundtable bertajuk "Strengthening Islamic Climate Action for a 1.5 World" yang digelar di Jakarta, Selasa (3/3/2026), Menag menegaskan bahwa dana sosial Islam seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) harus mulai diorkestrasi untuk mendukung transisi energi bersih dan adaptasi perubahan iklim.

​Langkah ini menandai pergeseran paradigma besar dalam pengelolaan dana umat, di mana filantropi Islam tidak lagi hanya berfokus pada pengentasan kemiskinan konvensional, tetapi juga pada keberlanjutan ekosistem yang menjadi fondasi kehidupan manusia.

Baca Juga: Refleksi Satu Tahun Jakarta: Meletakkan Fondasi, Memulihkan Harapan di Bawah Kepemimpinan Pramono-Rano

Konsep 'Green Jihad': Manifestasi Khalifah fil Ardh

​Dalam pidatonya di hadapan para diplomat mancanegara, Menag Nasaruddin Umar memperkenalkan konsep 'Green Jihad'. Istilah ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah seruan bagi umat Islam untuk memandang pelestarian alam sebagai bagian tak terpisahkan dari ibadah dan tanggung jawab moral.

​"Masalah perubahan iklim bukan sekadar persoalan teknis atau sains semata, melainkan krisis moral dan spiritual yang mendalam. Sebagai Khalifah fil Ardh (pemimpin di muka bumi), manusia memiliki mandat suci untuk menjaga keseimbangan alam," ujar Menag.

​Kementerian Agama berkomitmen penuh untuk mengarusutamakan gerakan lingkungan ini melalui jaringan akar rumput yang masif, termasuk edukasi berkelanjutan di ribuan pesantren dan rumah ibadah di seluruh Indonesia. Menag meyakini bahwa pendekatan spiritual akan jauh lebih efektif dalam mengubah perilaku masyarakat dibandingkan sekadar pendekatan regulasi.

Transformasi Keuangan Sosial Islam untuk Proyek Keberlanjutan

​Salah satu poin paling krusial dalam diskusi tersebut adalah rencana pengkajian pemanfaatan dana sosial umat untuk membiayai proyek-proyek strategis berbasis lingkungan. Potensi besar dari zakat dan wakaf produktif rencananya akan diarahkan pada:

Baca Juga: Akselerasi Transformasi Digital 2027, Diskominfostandi Kota Bekasi Tajamkan Strategi SPBE dan Keamanan Informasi

  • Pembangunan Infrastruktur Energi Bersih: Seperti pemasangan panel surya di rumah ibadah dan lembaga pendidikan Islam.
  • Sanitasi dan Air Bersih: Mengatasi krisis air di wilayah terdampak kekeringan melalui skema wakaf sumur dan teknologi filtrasi.
  • Ekosistem Ekonomi Hijau: Mendukung UMKM berbasis lingkungan yang dijalankan oleh masyarakat pesantren.

​"Kami sedang mendalami kerangka regulasi agar dana sosial ini dapat dialokasikan secara transparan dan akuntabel untuk membiayai proyek keberlanjutan di tengah masyarakat," tambah Menag.

Kolaborasi Internasional dan Diplomasi Iklim

​Acara yang diinisiasi oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Dino Patti Djalal ini menjadi panggung diplomasi penting. Dino menekankan bahwa tokoh agama adalah "komunikator ulung" yang mampu menerjemahkan bahasa sains iklim yang rumit ke dalam bahasa nilai yang mudah diterima oleh masyarakat luas.

​Kehadiran diplomat asing, termasuk Duta Besar Turki dan delegasi Australia, memperkuat dimensi internasional dari inisiatif ini. Perwakilan Australia memaparkan kontribusi melalui program Australia Indonesia Partnership for Justice (AIPJ), yang menitikberatkan pada aspek Keadilan Iklim.

Baca Juga: Jaga Daya Beli Saat Ramadan, Wali Kota Bekasi Resmikan Pasar Murah Bersubsidi 2026

Mereka menggarisbawahi pentingnya kerangka hukum yang kokoh untuk memastikan transisi energi di Indonesia berlangsung secara inklusif, tanpa meninggalkan kelompok masyarakat rentan.

Menuju COP 31: Indonesia sebagai Role Model Dunia

​Menutup pernyataannya, Menag Nasaruddin Umar menyampaikan harapannya agar inisiatif Green Jihad dan mobilisasi keuangan Islam ini memperkuat posisi tawar Indonesia di panggung dunia, khususnya menjelang konferensi iklim global COP 31.

Halaman:

Editor: Tiarsin Nawacita

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini