Minggu, 19 Juli 2026

Refleksi Satu Tahun Jakarta: Meletakkan Fondasi, Memulihkan Harapan di Bawah Kepemimpinan Pramono-Rano

Photo Author
Tiarsin Nawacita, Nawacita Post
- Kamis, 5 Maret 2026 | 16:54 WIB
Ilustrasi Refleksi Satu Tahun Jakarta: Meletakkan Fondasi, Memulihkan Harapan di Bawah Kepemimpinan Pramono-Rano (Ai)
Ilustrasi Refleksi Satu Tahun Jakarta: Meletakkan Fondasi, Memulihkan Harapan di Bawah Kepemimpinan Pramono-Rano (Ai)

NAWACITAPOST.COM – Tepat pada tanggal 20 Februari 2026, kepemimpinan Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno genap berusia satu tahun. Sejak dilantik setahun silam, pasangan ini mengusung visi yang menempatkan warga sebagai subjek utama pembangunan.

Memasuki fase awal perjalanan ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai memperlihatkan arah kebijakan yang lebih humanis, inklusif, dan solutif terhadap persoalan-persoalan yang selama ini mengendap di ibu kota.

​Benang merah kepemimpinan mereka terlihat jelas: sebuah siklus yang dimulai dari mendengar keluh kesah warga, menghadapi kerumitan birokrasi, hingga akhirnya mengeksekusi kebijakan yang merayakan identitas Jakarta sebagai kota global yang tetap membumi.

Baca Juga: Akselerasi Transformasi Digital 2027, Diskominfostandi Kota Bekasi Tajamkan Strategi SPBE dan Keamanan Informasi

Pendidikan dan Pemberdayaan: Memutus Rantai Ketimpangan

​Sektor pendidikan menjadi pilar utama dalam satu tahun pertama. Pramono-Rano memastikan keberlanjutan Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) guna menjamin tidak ada anak Jakarta yang putus sekolah karena kendala biaya.

​Namun, terobosan yang paling menyita perhatian adalah program Pemutihan Ijazah. Kebijakan ini hadir sebagai jawaban atas banyaknya ijazah warga yang tertahan di sekolah karena tunggakan biaya. Dengan pemutihan ini, ribuan warga kembali memiliki akses untuk mencari pekerjaan layak dan meningkatkan taraf hidup mereka.

Kesehatan Tanpa Sekat: Pasukan Putih dan JakCare

​Di bidang kesehatan, paradigma bergeser dari "warga mendatangi RS" menjadi "layanan mendatangi warga". Melalui Pasukan Putih, Pemprov DKI menghadirkan layanan home service bagi warga dengan keterbatasan mobilitas, terutama kelompok lansia.

​Selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga menjadi prioritas melalui platform JakCare. Program ini menyediakan dukungan psikologis yang mudah diakses, menyadari bahwa tekanan hidup di megapolitan seperti Jakarta memerlukan pendampingan kesehatan mental yang serius dan terstruktur.

Baca Juga: Jaga Daya Beli Saat Ramadan, Wali Kota Bekasi Resmikan Pasar Murah Bersubsidi 2026

Revitalisasi Ruang dan Penyelesaian Warisan Lama

​Wajah kota Jakarta turut mengalami transformasi yang lebih fungsional. Pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) baru terus dikebut, dengan kebijakan inovatif yakni pembukaan taman kota selama 24 jam.

Langkah ini bertujuan memberikan ruang interaksi sosial yang aman dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat, kapan pun mereka membutuhkannya.

​Menariknya, kepemimpinan Pramono-Rano juga menunjukkan komitmen pada "penuntasan masa lalu".

Proyek-proyek yang sempat terbengkalai kini mendapat kepastian:

  • Planetarium Jakarta: Kembali direvitalisasi agar dapat berfungsi maksimal sebagai pusat edukasi astronomi kebanggaan warga.
  • Tiang Monorel: Persoalan estetika dan hambatan tata ruang akibat tiang monorel yang mangkrak mulai diselesaikan dengan perencanaan matang agar tidak lagi menjadi "monumen kegagalan" di tengah kota.

Baca Juga: Perkuat Kepercayaan Publik, Diskominfo Depok Didorong Sajikan Informasi Berbasis Data dan Riset

Halaman:

Editor: Tiarsin Nawacita

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini