Kamis, 4 Juni 2026

Ganjar Ingatkan Bahaya Amnesia terhadap Pelanggaran HAM dan Korupsi

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Jumat, 9 Februari 2024 | 18:25 WIB
Ganjar Pranowo saat debat capres 2024 (suumber: Ganjar Pranowo)
Ganjar Pranowo saat debat capres 2024 (suumber: Ganjar Pranowo)

 
NAWACITAPOST.COM - Calon Presiden (capres) nomor urut 3, Ganjar Pranowo, mengekspresikan kegelisahannya terhadap kondisi demokrasi di Indonesia yang dinilai tidak sesuai dengan nilai dan kaidah yang berlaku.
 
Dalam sebuah podcast yang dikelola oleh Abraham Samad, pada Jumat (9/2/2024), Ganjar menyuarakan keprihatinannya terhadap sejumlah pelanggaran yang terjadi di Mahkamah Konstitusi (MK) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU), serta kurangnya pendengaran terhadap suara masyarakat sipil.
 
"Kalau MK-nya kena problem etika, KPU-nya kena problem. Etika apa yang mau dibicarakan dalam demokrasi kita, sebagai negara demokrasi yang cukup besar?” kata Ganjar, dikutip Jumat (9/2/2024).
 
 
Ganjar juga menyoroti kurangnya respons terhadap peringatan yang telah disampaikan oleh berbagai pihak, termasuk tokoh agama dan akademisi. Menurutnya, kurangnya perhatian terhadap peringatan ini menandakan adanya masalah dalam sistem demokrasi negara.

"Bagi yang merasa punya nilai dan melihat ini sedang berjalan di jalan atau rel yang keliru. Dia berbicara, mengingatkan. Dan, peringatan ini, mustinya didengarkan atau kita sedang mempertaruhkan demokrasi kita,” tutur Ganjar.

Dalam kesempatan yang sama, Ganjar menjawab pertanyaan Abraham Samad mengenai pernyataan penutupnya pada debat capres terakhir yang diselenggarakan oleh KPU. Ganjar mengutip pesan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam debat capres 2019, yang menekankan pentingnya untuk tidak memilih pemimpin yang memiliki rekam jejak pelanggaran HAM, tindakan otoriter, kekerasan, atau korupsi.

Baca Juga: Sederet Destinasi Wisata Malam Probolinggo Terpopuler, Kamu Sudah Kesini Belum?

"Saya sebenarnya mengutip saja. Maksud saya, gini Pak Abraham, agar kita tidak pendek ingatan. Kita jangan mudah lupa. Jangan amnesia dan ada fakta, ada jejak digital,” jelasnya

Ganjar juga menekankan pentingnya kesesuaian antara pikiran, perkataan, dan perbuatan, merujuk pada salah satu filosofi Jawa yang menyatakan bahwa seseorang seharusnya berbuat sesuai dengan perkataan dan pikirannya.

"Bahasa orang tua kampung kami, ya jangan sore esok dele, sore tempe malamnya apa Pak? Tempe bosok. Jangan sampai begitu," ujarnya," tutup Ganjar.

Baca Juga: Ahok Ungkap Usulan Terkait Ibu Kota Negara: Kalimantan Tengah Lebih Ideal

Ganjar menegaskan bahwa memilih pemimpin yang sesuai dengan nilai-nilai demokrasi adalah kunci untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi Indonesia.

 

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini