Kamis, 4 Juni 2026

BaraNusa Minta Prabowo Pecat Bahlil dan Hentikan Tambang Nikel di Raja Ampat

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Senin, 9 Juni 2025 | 09:18 WIB
BaraNusa secara tegas meminta Presiden Prabowo Subianto untuk menghentikan tambang nikel di Raja Ampat, Papua Barat Daya.  (Greenpeace)
BaraNusa secara tegas meminta Presiden Prabowo Subianto untuk menghentikan tambang nikel di Raja Ampat, Papua Barat Daya. (Greenpeace)

NAWACITAPOST.COM – Suara penolakan terhadap aktivitas tambang nikel di Raja Ampat, Papua Barat Daya terus bergema. Kali ini datang dari Barisan Relawan Nusantara (BaraNusa) yang secara tegas meminta Presiden Prabowo Subianto untuk memberhentikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.

Ketua Umum BaraNusa, Adi Kurniawan, menilai bahwa Bahlil telah menjadi sumber kegaduhan nasional dan bisa berdampak langsung pada citra serta stabilitas pemerintahan yang akan datang. Adi menyebut bahwa tindakan Bahlil belakangan ini, khususnya terkait tambang nikel di Raja Ampat, sangat membahayakan.

“Sebab itu, kami meminta Presiden Prabowo segera pecat Bahlil sebelum kegaduhan ini akan melebar kemana-mana,” ungkapnya.

Ia menyebut bahwa posisi Bahlil di kabinet sudah tidak layak dipertahankan, mengingat kebijakan dan pernyataannya yang dinilai tidak selaras dengan semangat perlindungan lingkungan dan penghormatan terhadap masyarakat adat.

Baca Juga: Pilihan Sehat dan Islami: Susu Fortifikasi Halal dan Thayyib untuk Anak Tangguh di Masa Depan

Adi menilai bahwa rangkaian keputusan dan pernyataan Bahlil sejak kasus gas elpiji hingga eksplorasi tambang menunjukkan pola yang bisa merusak kepercayaan publik terhadap pemerintah. Menurutnya, pendekatan seperti ini bisa menciptakan konflik baru, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini dikenal memiliki potensi konflik tinggi seperti Papua.

“Mulai dari Gas Elpiji sekarang Raja Ampat, model kaya Bahlil ini sangat berbahaya dan sudah sangat fatal," kata dia.

Kekhawatiran tersebut didasari pada situasi Papua yang dianggap masih rentan dan penuh dinamika sosial-politik. Adi menyampaikan bahwa tindakan Bahlil dapat menjadi pemicu baru dalam ketegangan antara negara dan masyarakat adat.

“Sikap Bahlil ini tidak bisa dibiarkan dan harus disikapi secara serius oleh Presiden. Jangan sampai Konflik di Tanah Papua bisa semakin meluas,” katanya.

Selain mendesak pemecatan Bahlil, BaraNusa juga menuntut penghentian total semua aktivitas tambang di Raja Ampat dan sejumlah wilayah lain di Indonesia Timur. Menurut mereka, dampak lingkungan dan sosial dari kegiatan tambang sudah melampaui batas.

Baca Juga: Kematian Kris Butarbutar, Keluarga Desak Pengusutan Dugaan Penganiayaan di Sekolah Riau  

“Hentikan Aktivitas tambang nikel di Raja Ampat dan wilayah lainnya. Stop menjual sumber daya alam kita, stop mengeksploitasi kekayaan alam kita, stop perampasan tanah rakyat, stop merusak alam. Pecat Bahlil dan tangkap Bahlil segera,” tegas Adi.

Sementara itu, pada hari yang sama, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendapat penolakan saat tiba di Bandara Domine Eduard Osok (DEO), Sorong. Massa yang terdiri dari aktivis lingkungan dan pemuda adat sudah berkumpul sejak pagi hari untuk menyampaikan protes atas kehadiran tambang nikel di tanah adat Raja Ampat.

Mereka menilai pemerintah tidak terbuka dan tidak jujur dalam menyampaikan informasi kepada publik. Aksi tersebut membawa berbagai spanduk penolakan dan meneriakkan yel-yel kritis terhadap Bahlil.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini