NAWACITAPOST.COM – Di tengah meningkatnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pemenuhan gizi sejak dini, teknologi dalam pengolahan susu fortifikasi hadir sebagai penunjang penting dalam proses tumbuh kembang anak. Produk ini tidak sekadar menyuplai nutrisi tambahan, tapi juga menjawab kebutuhan akan makanan yang halal dan thayyib, dua prinsip yang menjadi pedoman hidup masyarakat Muslim di Indonesia.
Pemanfaatan teknologi modern memungkinkan susu fortifikasi menyajikan kandungan nutrisi yang lebih optimal. Formulasi yang kini dikembangkan bahkan mampu meniru struktur nutrisi yang terdapat dalam air susu ibu. Salah satu terobosan yang kini digunakan adalah Iron C, bentuk zat besi yang memiliki bioavailabilitas tinggi.
“Salah satu kemajuan teknologi terbaru adalah pengembangan Iron C, bentuk zat besi yang lebih mudah diserap oleh tubuh terutama bila dikombinasikan dengan vitamin C,” ujar dr. Sukiman Rusli, Sp.PD., dokter spesialis penyakit dalam yang telah lama mengamati isu kekurangan mikronutrien pada anak.
Zat besi merupakan salah satu komponen penting dalam perkembangan otak dan tubuh anak. Kekurangannya berpotensi menyebabkan anemia, rasa lelah berkepanjangan, serta gangguan kognitif dan motorik. Masalah ini bukan hanya terjadi di negara berkembang, melainkan merupakan persoalan global. Organisasi internasional mencatat lebih dari separuh anak-anak di dunia mengalami kekurangan minimal satu jenis mikronutrien.
Namun, persoalan gizi pada anak tidak melulu berpaut pada persoalan ekonomi. Dokter Merita Arini, yang tergabung dalam Majelis Kesehatan PP 'Aisyiyah, menyebut bahwa kesalahan persepsi dan minimnya edukasi menjadi faktor lain yang tak kalah krusial.
“Stunting misalnya, tak hanya ditemukan di keluarga prasejahtera. Banyak juga keluarga mampu yang anaknya mengalami stunting karena kurang pengetahuan tentang nutrisi, pola asuh, dan pentingnya zat gizi mikro seperti zat besi," ujarnya.
Program-program komunitas seperti Rumah Gizi dan edukasi di Posyandu menjadi ruang efektif untuk mengajak masyarakat mengenal lebih dalam soal pentingnya makanan bergizi. Dalam kegiatan ini, misinformasi tentang produk pangan juga diluruskan, termasuk anggapan bahwa semua produk susu cocok untuk anak.
“Susu kental manis bukanlah susu. Itu lebih cocok disebut minuman manis berperisa susu. Kandungan gulanya sangat tinggi dan nyaris tidak punya nilai gizi signifikan bagi anak,” tegas dr Merita.
Keberadaan susu fortifikasi yang dirancang dengan prinsip halal dan thayyib memberi alternatif yang lebih tepat bagi keluarga. Prinsip halal menjamin bahwa produk tidak bertentangan dengan syariat, sementara thayyib memastikan keamanan dan manfaat produk bagi tubuh. Kombinasi keduanya menjadi fondasi dalam memilih makanan yang baik untuk pertumbuhan anak.
Baca Juga: Kematian Kris Butarbutar, Keluarga Desak Pengusutan Dugaan Penganiayaan di Sekolah Riau
“Inilah yang harus dipahami para orang tua. Jangan hanya melihat harga atau rasa, tapi perhatikan juga komposisi dan legalitas produknya. Susu fortifikasi dengan kandungan zat besi, vitamin, dan mineral lengkap bisa menjadi pendukung tumbuh kembang anak, apalagi jika didampingi pola makan bergizi dan gaya hidup sehat,” tambah dr Sukiman.
Melalui kolaborasi antara pakar kesehatan, tokoh masyarakat, dan lembaga keagamaan, diharapkan upaya edukasi mengenai pentingnya susu fortifikasi dapat menjangkau lebih luas. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar untuk menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, produktif, dan siap menyongsong masa depan bangsa.
Artikel Terkait
14 Sapi Kurban dari Perumda Surya Sembada, Bukti Nyata Kepedulian untuk Warga Surabaya
Kunjungan Mendadak, Marinus Gea Ultimatum Para Warek hingga Dosen Universitas Nias
Haul ke-64 Syekh Ma’sum Tambusai: Bupati Didampingi Wabup Rokan Hulu Tegaskan Komitmen Pembinaan Generasi Muda
Menapak Jejak Bung Karno Lewat Aksi Nyata: PDI Perjuangan Surabaya Bagikan Sembako di Kampung Kelahiran Sang Proklamator
Pemkab Rokan Hulu Peringati Hari Lahir Pancasila Dengan Kegiatan Jalan Santai Dan Launching Car Free Day.