Kamis, 4 Juni 2026

Ketika Anak Masuk Barak Militer: Mendidik atau Menghukum?  

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Sabtu, 7 Juni 2025 | 09:06 WIB
Anak nakal bukan untuk dihukum dengan keras melalui barak militer, tetapi dipahami dengan kasih. (Istimewa)
Anak nakal bukan untuk dihukum dengan keras melalui barak militer, tetapi dipahami dengan kasih. (Istimewa)

Ia menyayangkan jika masih ada anak-anak yang justru dibawa ke tempat pelatihan keras, padahal tersedia banyak fasilitas yang lebih layak. Ia menekankan bahwa permasalahan kenakalan remaja harus dihadapi dengan empati dan keaktifan sosial, bukan dengan pendekatan hukuman.

Baca Juga: 9 Hotel Termahal di Dunia, Tarifnya Lebih Mahal dari Mobil Mewah per Malam  

Diskusi ini mengalir tak hanya dalam argumen dan data, tetapi juga dalam refleksi batin. Pertanyaan yang berulang-ulang muncul adalah: apakah kita sudah mencintai sebelum menghukum? Apakah kita melihat anak sebagai individu yang sedang tumbuh dan butuh bimbingan, atau sebagai masalah yang harus disingkirkan?

Salah satu momen yang paling menyentuh adalah ketika seorang ayah yang hadir di akhir acara berkata lirih, “Saya datang ingin mengirim anak saya ke tempat pelatihan. Tapi sekarang, saya hanya ingin pulang… dan mulai berbicara dengannya.” Ucapannya disambut dengan keheningan yang dalam.

Mungkin perubahan besar tidak selalu dimulai di ruang pelatihan atau ruang sidang. Bisa jadi, ia dimulai di ruang makan, di sofa yang usang, di pelukan yang selama ini tertunda, atau di percakapan yang selama ini tak pernah benar-benar terjadi.

Diskusi ini tidak menawarkan jawaban instan. Tapi ia membuka ruang, yaitu untuk berpikir ulang, merasa ulang, dan mencintai ulang. Dan dari ruang-ruang seperti inilah, mungkin akan lahir jalan baru yang lebih bijak bagi anak-anak yang selama ini hanya dianggap nakal.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini