Selasa, 2 Juni 2026

Hari Ini! 406 Tahun Silam, Nama Jayakarta Diganti Batavia oleh Jan Pieterszoon Coen  

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Jumat, 30 Mei 2025 | 11:49 WIB
Jan Pieterszoon Coen.  (X)
Jan Pieterszoon Coen. (X)

 

NAWACITAPOST.COM - Hari ini, 30 Mei 2025, menandai 406 tahun sejak Jan Pieterszoon Coen menaklukkan Jayakarta dan mengganti namanya menjadi Batavia. Peristiwa pada 30 Mei 1619 itu bukan hanya soal perubahan nama kota, melainkan juga tonggak awal penguasaan kolonial Belanda yang kelak bertahan hingga lebih dari tiga abad di wilayah yang kini menjadi Indonesia.

Jan Pieterszoon Coen adalah seorang saudagar dan tokoh penting dalam sejarah kolonialisme Belanda. Ia menjabat sebagai Gubernur Jenderal keempat Hindia Belanda dan memainkan peran besar dalam membentuk jalur perdagangan VOC di Nusantara.

Sebelum berganti nama menjadi Batavia, daerah yang kini dikenal sebagai Jakarta memiliki sejumlah nama lain. Pada masa awalnya dikenal sebagai Sunda Kelapa, pelabuhan penting Kerajaan Sunda.

Setelah ditaklukkan oleh Pangeran Fatahillah pada 1527, namanya berubah menjadi Jayakarta. Nama ini bertahan cukup lama hingga awal abad ke-17 ketika pengaruh asing mulai meruncing di wilayah ini.

Citramaja City, tempat hunian modern yang menawarkan kenyamanan, kemudahan, dan keharmonisan hidup. (Instagram)

Situasi politik menjelang 1619 cukup kompleks. Pada 1618, Sultan Banten dengan bantuan armada Inggris yang dipimpin oleh Laksamana Thomas Dale berhasil mengusir pasukan VOC dari Jayakarta. Setelah itu, Jayakarta berada di bawah kendali Kesultanan Banten yang juga berhasil menyingkirkan Inggris dari wilayah tersebut.

Namun, VOC tak tinggal diam. Gubernur Jenderal VOC saat itu, Laurens Reael, digantikan oleh Jan Pieterszoon Coen. Segera setelah menjabat, Coen mengerahkan 18 kapal perang untuk mengepung Jayakarta.

Serangan besar-besaran itu akhirnya membuat kota tersebut jatuh ke tangan VOC. Pada 30 Mei 1619, Jayakarta dibumihanguskan, dan dari puing-puingnya dibangun kota baru bergaya Eropa yang kelak menjadi pusat pemerintahan VOC di Asia Timur.

Coen awalnya berkeinginan menamai kota barunya sebagai Nieuwe Hollandia. Namun, keputusan akhir dari dewan pimpinan VOC menetapkan nama Batavia. Nama ini diambil dari suku Batavier, yang dianggap sebagai leluhur bangsa Belanda. Keputusan itu mencerminkan keinginan VOC untuk membangun identitas kolonial yang kuat di tanah jajahan.

Baca Juga: Sepotong Cinta di Baho Gamira

Setelah meletakkan dasar-dasar pemerintahan kolonial di Batavia, Coen sempat meninggalkan jabatannya dan kembali ke Belanda pada 1623. Namun, pada 1627, ia kembali ditugaskan sebagai Gubernur Jenderal untuk kedua kalinya.

Dalam masa jabatan ini, Coen menghadapi serangan dari Sultan Agung, penguasa Mataram yang berusaha mengusir VOC dari Batavia. Serangan tersebut gagal, dan VOC mempertahankan kekuasaannya.

Metode pemerintahan yang diterapkan Coen sejak awal, seperti monopoli dagang, intervensi terhadap kerajaan lokal, serta politik adu domba antarbangsa dan antarkerajaan, menjadi pola tetap yang digunakan VOC selama berkuasa di Nusantara. Batavia pun terus berkembang sebagai pusat kekuasaan kolonial, meninggalkan jejak panjang dalam sejarah kota yang kini bernama Jakarta.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini