NAWACITAPOST.COM - Setiap proses adalah pembelajaran. Begitulah prinsip yang dipegang teguh oleh Budiarsa Sastrawinata, sosok di balik berbagai proyek besar Ciputra Group, baik di Indonesia maupun mancanegara.
Kiprah panjangnya dalam dunia properti bukan sekadar soal keberhasilan membangun kawasan skala kota, tetapi juga mencerminkan perjalanan hidup yang penuh dengan usaha, kemauan untuk belajar, dan semangat pantang menyerah. Ia mengawali karier dari titik nol, dengan langkah-langkah kecil yang kemudian menjelma menjadi jejak besar dalam industri properti nasional dan internasional.
Budiarsa memulai perjalanannya dari proyek-proyek perintis seperti Bintaro Jaya dan CitraGarden City. Ia tidak sekadar menyaksikan, tapi terlibat langsung dalam pencarian lahan, pembebasan tanah, pengurusan perizinan, hingga pelaksanaan proyek jalan.
Dari situ, ia menyadari pentingnya pengalaman lapangan dan keberanian untuk menghadapi ketidakpastian. Dalam proses itu, komunikasi yang terus terjaga dengan Ir. Ciputra dan dukungan tim menjadi kunci yang sangat ia hargai.
Di usia 61 tahun, Budiarsa tetap terlihat segar dan antusias. Ia dikenal sebagai pelobi yang cekatan, pemimpin yang terbuka terhadap pembelajaran, dan pribadi yang tak pernah kehabisan ide. Kepribadiannya yang hangat membuatnya selalu diterima baik oleh rekan kerja maupun masyarakat sekitar proyek.
Kini, namanya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Ciputra Group, seolah menyatu dalam satu tarikan napas. Sebagai Managing Director Ciputra Group sekaligus pemimpin PT Ciputra Residence dan Sub-Holding 1 Grup Ciputra, ia memegang tanggung jawab terhadap proyek-proyek besar seperti CitraGarden City di Jakarta Barat, CitraRaya Tangerang, hingga pengembangan kota baru di Vietnam, Kamboja, dan China.
Total lahan pengembangan yang ia tangani mencapai 6.200 hektar. Namun, semua pencapaian itu bukan karena relasi keluarga semata, melainkan berkat dedikasi dan kerja keras yang konsisten.
Lahir di Jakarta pada 10 Agustus 1955 sebagai anak keempat dari lima bersaudara, ketertarikan Budiarsa pada dunia arsitektur dan bangunan sudah terlihat sejak kecil. Ia tumbuh dengan kekaguman terhadap bangunan-bangunan tua di Jakarta dan memperkuat minatnya itu dengan pendidikan teknik sipil, dimulai di Universitas Trisakti dan kemudian dilanjutkan ke Plymouth Polytechnic di London, Inggris.
Baca Juga: CitraGarden Bintaro Perkenalkan Dalbergia, Hunian Modern Berkonsep Tropis
Di masa sekolah di Regina Pacis Jakarta, ia berkenalan dengan Rina Ciputra yang kelak menjadi istrinya. Orang tuanya yang hanya mengenyam pendidikan hingga SMA tetap memberikan dukungan penuh terhadap cita-cita akademis dan profesionalnya. Mereka selalu menekankan pentingnya pendidikan dan nilai-nilai moral yang kuat, pesan yang tetap dipegang Budiarsa hingga kini.
Keterlibatan awal Budiarsa dalam proyek CitraGarden City dimulai dari keterlibatannya dalam tim pencari lahan hingga pengembangan awal. Meski tidak secara penuh waktu bekerja di sana karena ia ditugaskan di proyek Bumi Serpong Damai (BSD), namun kontribusinya tetap signifikan.
Di BSD, ia menjadi satu-satunya anggota keluarga Ciputra yang bekerja di bawah PT Pembangunan Jaya sebagai karyawan, bukan sebagai bagian dari perusahaan keluarga. Pengalaman ini justru membentuknya menjadi profesional yang tangguh.
Ia memulai dari kantor sederhana seluas 60 meter persegi dengan hanya empat orang staf. Dari merancang struktur perusahaan hingga menyusun master plan, semua dilakukan dari nol. Pada 1986 ia diangkat menjadi General Manager, dan saat BSD resmi diluncurkan pada 1989, ia sudah memegang peran strategis sebagai Direktur. Lima tahun kemudian, ia ditunjuk sebagai Presiden Direktur.
Artikel Terkait
Polres Siak Gelar Upacara Hari Kebangkitan Nasional 2025, Kapolres Ajak Personel Bangkitkan Semangat Pengabdian
Banjir Tak Kunjung Terselesaikan, DPRD Surabaya Soroti Kinerja DSDABM
Lapas Amuntai Peringati Hari Kebangkitan Nasional : Bangkit Bersama Wujud Indonesia Kuat
SPMB dan BPJS Kesehatan Dikeluhkan Warga Asemrowo, Johari Mustawan Siap Kawal Aspirasi
'Gonjang-ganjing' PDIP Surabaya: Eri Cahyadi Gusar, Pertemuan Tanpa Pengurus DPC