NAWACITAPOST.COM - Sebelum saya menyampaikan mengapa saya memilih Pasangan Ganjar-Mahfud sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI mendatang, saya perlu sampaikan bahwa bukan karena mereka dicalonkan oleh PDIP tetapi karena Figur mereka memang Pantas dan Mumpuni.
Jauh sebelum Ganjar ditetapkan sebagai Cawapres oleh PDIP sempat masyarakat Indonesia termasuk saya, dibuat ketar-ketir karena Puan Maharani (Ketua DPR RI) yang notabene putri Ketua Umum PDIP dan Cucu Presiden I RI Ir. Sukarno ditambah manufer dari beberapa Orang PDIP yang seolah-olah sangat mendukung Puan Maharani, jangan-jangan bukan Ganjar yang dipilih karena bukan berasal dari keturunan Sukarno langsung. Ketika Ganjar ditetapkan oleh Ketua Umum PDIP sebagai Capres, hati saya langsung jatuh cinta bersyukur dan apresiet kepada Ibu Megawati karena pemilihan Ganjar sebagai Calon Presiden Tahun 2024 sudah tepat karena tidak berdasarkan faktor keturunan tetapi karena Faktor Prestasi dan Elektabilitas.
Apalagi setelah Mahfud MD dipilih dan ditetapkan sebagai Pendamping (cawapres) Ganjar, semakin kuat tekad saya untuk memilih Ganjar-Mahfud pada Pemilihan Presiden/Wakil Presiden RI pada tanggal 14 Pebruari 2024 mendatang.
Perlu saya sampaikan bahwa pada Pilpren Tahun 2014 (±10 Tahun yang lalu) saya terus terang saya mendukung dan memilih Prabowo Subianto sebagaimana sikap beberapa teman-teman sekarang, karena waktu itu ia masih sangat energik dan meyakinkan, dibandingkan dengan Presiden terpilih saat itu yaitu Bapak Jokowi yang notabene Gubernur DKI yang baru menjabat sekitar 2 tahun, lalu PDIP mengusungnya menjadi Capres untuk melawan Prabowo, padahal saat itu Ibu Megawati (Ketum PDIP) bisa mencapreskan diri kalau dia mau, tetapi ego pribadinya dia kesampingkan dan membuka jalan pada Jokowi untuk menjadi Capres ketika itu. Makanya sungguh lucu kalau ada yang mengatakan untuk justifikasi tindakan Jokowi bahwa PDIP mengusung Jokowi karena mutualisme symbiosis. Kalau pada Tahun 2019 mungkin saja benar tetapi pada tahun 2014 saya kira sangat keliru karena pada saat itu banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenai figur Jokowi seperti diungkapkan oleh Panda Nababan bahwa si kurus itu belum ada apa-apanya pada saat itu walaupun pernyataan beliau terkesan cerminan kekecewaan.
Sepertinya benar ungkapan Abraham Lincon yang sempat dikutip oleh Prof Ikrar Nusa Bakti (yang mengaku sebagai pendukung Jokowi sejak mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta) dan sempat menjadi Duta Besar RI di Tunisia dari tahun 2017 s/d 2021 yang menulis sambil nangis dalam artikelnya di Kompas dengan judul : “Kuasa memangku Lupa” atau Dalam Bahasa Jawa : “Kuoso menggendong Lali”. Ia mengatakan jika ingin melihat tabiat seseorang maka berilah dia kekuasaan karena melalui kekuasaan seseorang bisa lupa diri dari mana ia berasal, seseorang bisa lupa teman dan lain-lain sebagainya. Ia mengibatkan Jokowi adalah kita yang sekarang telah berubah 180 derajat seperti raja Jawa kecil yang mempertahankan dinastinya dengan menyodorkan anaknya menjadi Cawapres Prabowo.
Dan kalau saat ini saya sendiri tidak mendukung Prabowo bukan karena kebencian tetapi karena rasa kasihan kepada Prabowo sendiri dan juga kepada masyarakat Indonesia, ia tidak mampu untuk blusukan lagi, karena beliau sudah terlalu tua/Uzur 72 Tahun dan bahkan konon kabarnya selalu pakai tongkat serta dibopong kalau pergi kemana-mana belum lagi emosinya yang terkadang susah ia kendalikan. Kasihan juga kalau memaksakan diri.
Dengan Gibran Maju sebagai Cawapresnya Prabowo banyak masyarakat Indonesia yang mengatakan Jokowi, Gibran dan Bobby Nasution ibarat pepatah : “ Kacang Lupa Kulitnya”. Bagaimana tidak, Jokowi menjadi Presiden 2 Periode karena diusung oleh PDIP, demikian juga dengan Gibran menjadi Walikota Solo karena diusung PDIP dan juga dengan Bobby Nasution menjadi Walikota Medan karena diusung oleh PDIP.