Baca Juga : Pernyataan Keras !!! PKB Minta Yang Terlibat HTI, FPI dan PKI Dilarang Ikut Pemilu
Kembali ke soal TSMP, Eko Kuntadhi membedahnya secara tepat. Dalam chanel Youtube di Cokro TV, Eko yang juga eks Himpunan Mahasiswa Islam dan masyarakat peduli Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika menyatakan bahwa buku yang ditemukan di Sekolah-Sekolah Bekasi itu ada nama Ganjar dengan konotasi negatif. Konten yang menyebutkan nama Ganjar dengan konotasi negatif ada di halaman 102 buku tersebut.
Baca Juga : Awas ! Penyebaran HTI Melalui Artis Hijrah dan Film Kartun Anak
Eko menegaskan,“ternyata gak cuman satu, dibuku teks dengan mata pelajaran yang sama juga terdapat nama Ganjar dengan konotasi yang negatif. Contoh soalnya begini terdapat dalam buku itu ada teks begini. Meskipun sudah mendapat rezeki yang banyak Pak Ganjar tak pernah bersyukur sebagai orang Islam ia pun tidak pernah Shalat dan bla-bala itu satu soal. Kemudian pada halaman lainnya ada juga soalnya seperti ini. Lalu hal sama juga dikatakan dalam buku itu. Meskipun sudah mendapat rezeki yang banyak, Pak Ganjar tidak pernah bersyukur dengan menyembelih hewan korban saat Idul Adha, bla-bla. Seperti itu, apa yang dicari dengan soal-soal menyebutkan nama Ganjar?
Petinggi PTSPM Syamsu Hidayat dengan bentangan bendera HT. foto tangkapan layar cokro TV
Dengan menyebutkan nama Ganjar dengan konotasi negatif kita tambah tahu, bahwa penyusun atau editornya mungkin bisa ngeles, bahwa pak Ganjar yang dimaksud bukan Ganjar Pranowo Gubernur Jateng yang memang belakangan namanya terus moncer. Ganjar disini hanyalah tokoh fiktif dalam soal tersebut. Tapi nama yang sama digunakan berkali-kali dengan konotasi yang negatif dalam beberapa buku dengan penulis dan penerbit yang sama, agak aneh kalau mereka bilang bahwa ini adalah cuma tokoh fiktif dan bukan untuk tujuan tertentu, apalagi bila mereka ngumpet dengan alasan bahwa banyak orang yang namanya Ganjar, tandas Eko penulis buku “Para Penyembah Petromaks.”
Ingat, Ganjar itu bukanlah nama yang banyak digunakan oleh orang Indonesia. Dia bukan nama generik. Seperti Budi, Ujang, Asep atau Agus. Bahkan ada oragnisasi yang menghimpun nama Asep sedunia isinya orang bernama Asep. Dan, gak ada organisasi yang menghimpun nama Ganjar sedunia. Karena mungkin gak banyak. Nama Ganjar cukup khas. Dan gak banyak orang yang memakai nama itu, saat ini kalau kita menyebut nama Ganjar kita langsung menyebut sosok lelaki yang berambut putih yang sekarang menjabat orang nomor satu Jateng, jadi kalau dibuku itu negeles itu sekedar rekaan penulis, itu jelas menghina akal jelas. Konten yang menyebut nama ganajar secata genatif itu tujuannya politik. Kita tahu serangan kemana-mana, dan polanya cukup masif dan struktur, tutur aktivis 98.
-
Hal lainnya, Eko menyebut ada di SMP Cipete, nama Mega dinegatif dan Anies postif, kedua nama itu bukan generik, dan kedua itu nama itu bukan dalam satu barisan , kita tahu Mega itu adalah nama Megawati Soekarnoputeri Ketumn PDIP, Anies namanya adalah Anies Baswedan, Guburnur DKI Jakarta. Kita tahu bahwa nama Mega negatif dan Anies positif kita tahu bahwa penulisnya kental dengan bau kadrunnya.
Melihat kasus yang ditemukan di Cipete dengan menyebut nama Mega negatif dan di Sekolah Bekasi nama Ganjar negatif ini bukan aksidental, tapi terorkestrasi dan terstruktur. Artinya ada semacam perintah entah dari siapa untuk menyerang tokoh-tokoh politik yang berpotensi sambil meninggikan tokoh lainnya, meskipun tokohnya minim prestasi, tegasnya.
Buku yang menyerang ganjar itu disetebritkan oleh PT TSPM. Basis penerbit ini di Solo. Dan sebagain besar karyawan PT TSPM adalah simpatisan 212, termasuk petingginya Direktur operasional Penerbit buku itu adalah Enny Rahma adalah orang yang getol menyokong kaum monaslimin, Eny juga dikenal dekat dengan Mudrick sangidu, Ketua KAMI Solo. Masih ingat dong Kami, Gatot Nurmantyo, Din Syamsuddin, Amien Rais dkk. Syamsu Hidayat, dia tidak segan-segan menyatakan ideologi secara terang-terangan dengan foto-fotonya bentangan bendera HTI. Jadi kita tahu penerbit ini afiliasi politiknya kemana.
Perlu diketahui, bahwa PTSM pernah menjadi daftar hitam oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memasukkan PTSPM dalam daftar hitam sebagai sanksi atas beredarnya buku berjudul Aku Berani Tidur Sendiri yang dianggap memuat konten tidak ramah anak. Meski pihak PTSPM sudah menyampaikan permintaan maaf, Muhadjir menyebut bahwa pihak penerbit dalam hal itu sudah melanggar aturan. "Ya, jelas kita blacklist penerbitnya. Dia sudah minta maaf tapi tidak cukup lah itu. Masak dia tidak mengerti kalau itu suatu hal yang tidak senonoh," katanya seusai menghadiri Wisuda Periode 1 2017 Universitas Muhammadiyah Malang.
Memang kalau ideologi sudah tertanam dan orang-orangnya masih bebas berkeliaran, segala cara dan celah mereka gunakan. Tak peduli sudah menjadi daftar hitam atau dilarang. Yang mereka tiupkan dan gencarkan adalah propaganda hoaks yang berbahaya.