NAWACITApost.com - Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat, Lebih dari 263.934 orang warga Palestina telah meninggalkan rumah mereka di Jalur Gaza. Mereka dipaksa mengungsi karena pengeboman oleh Israel.
"Lebih dari 263.934 orang di Gaza diyakini telah meninggalkan rumah mereka," kata OCHA, dalam sebuah update pada Selasa (10/10/2023).
Pertempuran sengit antara Hamas dan Israel itu telah menewaskan ribuan orang di kedua belah pihak. OCHA memperingatkan, jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat karena gejolak perang Hamas-Israel masih berlangsung.
Dikatakan, sekitar 3.000 orang telah mengungsi karena eskalasi sebelum serangan mendadak pada Sabtu (7/10/2023) padi. Kemudian, lebih dari 1.000 orang dilaporkan telah terbunuh di Israel dalam serangan terburuk selama 75 tahun sejarah negara tersebut berkonflik. Sementara, para pejabat Gaza melaporkan 900 orang tewas sejak serangan udara dimulai.
"Kampanye pengeboman telah menghancurkan lebih dari 1.000 unit rumah, dan 560 di antaranya rusak parah sehingga tidak dapat dihuni," kata OCHA, mengutip pihak berwenang Palestina, dikutip dari AFP.
Menurut catatan OCHA, di antara mereka yang mengungsi, hampir 175.500 orang mencari perlindungan di 88 sekolah yang dikelola badan PBB, UNRWA. Kemudian, lebih dari 14.500 orang lainnya mengungsi ke 12 sekolah pemerintah, sementara hampir 74.000 orang diperkirakan tinggal bersama kerabat dan tetangga atau mencari tempat berlindung di gereja-gereja dan fasilitas-fasilitas lainnya.
"Jumlah pengungsi di dalam Gaza merupakan jumlah pengungsi tertinggi sejak eskalasi permusuhan selama 50 hari di tahun 2014," kata laporan OCHA tersebut.
OCHA juga memperingatkan, kebutuhan dasar menjadi semakin sulit bagi mereka yang belum mengungsi. Israel telah memberlakukan apa yang disebutnya sebagai "pengepungan total" di Jalur Gaza, memutus pasokan makanan, air, bahan bakar, dan listrik.