“Jika Anda, Hasto, benar-benar memiliki video atau dokumen yang membuktikan perilaku korup pejabat negara, ungkapkan itu. Jangan sampai publik menganggap Anda hanya menyebar hoaks untuk menutupi tindak kriminal Anda sendiri,” seru Petrus.
Ia juga menyebut nama Connie Rahakundini Bakrie, yang disebut-sebut menjadi tempat titipan dokumen tersebut. “Ibu Connie juga punya kewajiban moral dan hukum untuk membuka fakta. Jangan hanya memberikan petunjuk setengah-setengah. Jika ini tidak diungkap, Anda semua bisa dianggap pembohong,” tegas Petrus.
Mengakhiri catatannya untuk Hasto, Petrus memberikan ultimatum keras. “Jangan main-main dengan hukum. Jika Anda tidak mengungkap apa yang Anda klaim tahu, maka Anda adalah bagian dari kebohongan itu sendiri. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu.”
Selain kasus Harun Masiku, Petrus juga menyinggung tuduhan yang dialamatkan kepada Presiden Jokowi terkait laporan OCCRP (Organized Crime and Corruption Reporting Project).
OCCRP, yang sebelumnya memuat laporan kontroversial terkait figur publik, telah memberikan pernyataan resmi bahwa tidak ada bukti untuk mendukung tuduhan korupsi terhadap Presiden Jokowi. Hal ini seharusnya menjadi peringatan bagi pihak-pihak yang terus menggunakan laporan tersebut untuk menyerang tanpa dasar yang kuat.
“Banyak yang membenci Pak Jokowi memanfaatkan laporan OCCRP untuk menyudutkan beliau. Bahkan, disebut sebagai finalis pemimpin terkorup di dunia. Tetapi OCCRP sendiri sudah mengklarifikasi bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan Pak Jokowi melakukan korupsi,” ujar Petrus Loyani.
Menurutnya, klaim tersebut tidak hanya salah secara fakta tetapi juga mencoreng kredibilitas para penuduh yang dianggapnya berpendidikan tinggi namun menggunakan cara-cara irasional.
"Ini sekarang pembenci-pembenci Pak Jokowi harus malu. Sebelumnya saya sudah katakan, dalam kacamata keuangan negara, tidak ada bukti Pak Jokowi korupsi. Tidak ada data yang mendukung, baik soal kapan korupsi itu terjadi, berapa nilai uang negara yang hilang, maupun transaksi apa yang dimaksud," tegasnya.
Petrus juga menyayangkan bagaimana laporan jurnalistik sering digunakan sebagai dasar tuduhan yang tidak bertanggung jawab. “Bagaimana Anda, yang katanya intelektual, bisa menikam seseorang hanya berdasarkan pemberitaan? Itu logika yang menyesatkan,” imbuhnya.
Dalam pernyataannya, Petrus juga menyoroti kelompok-kelompok tertentu yang dinilai kerap menyudutkan Presiden Jokowi dengan sentimen agama atau kepentingan politik tertentu. Nama-nama seperti Rocky Gerung, Said Didu, dan his gang tak luput dari kritiknya. Ia bahkan mendukung langkah hukum terhadap pihak-pihak yang dianggap rasis dan memprovokasi masyarakat.
“Saya bersyukur ada kelompok yang sudah menuntut Said Didu dan kawan-kawan atas ucapan mereka yang bernada rasis dan adu domba. Ini langkah yang patut diapresiasi,” ujar Petrus.
Ia menutup pernyataannya dengan pesan agar kritik yang dilayangkan kepada pemerintah dilakukan secara objektif dan bertanggung jawab. “Kalau kita mengkritik kebijakan, marilah dengan alasan yang bertanggung jawab. Jangan hanya berdasarkan kebencian,” pungkas Petrus Loyani, seperti biasa menutup dengan salam khasnya, “Salam Merah Putih!”. ***