Baca Juga : Anak Buahnya : Novel Baswedan Itu Memang Pengatur Kasus di KPK
Memang bukan Novel yang menyebut mengaku prihatin dengan kondisi lembaga antirasuah yang kini dipimpin Komjen Pol Firli Bahuri. Tapi mantan Kasatreskrim Pores Bengkulu yang kasusnya ditengarai dan diduga saat menjabat itu melakukan tindak kekerasan kepada pelaku pencuri sarang burung walet itu tetap saja memprovokasi rekan-rekannya di KPK agar memberontak kepada pimpinan komisioner KPK saat ini.
Walaupun Menurut para pegawai, KPK bukanlah tempat untuk sekedar bekerja dan mencari nafkah, melainkan simbol dari harapan pascareformasi untuk menuju Indonesia yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Itu hanya lips service belaka.
Bagaimana tidak. Pergantian Komisioner KPK beberapa kali. Novel tak mau beranjak dari penyidik KPK. Seakan kerjaan sebagai penyidik itu, telah mendapatkan pundi-pundi yang wah dan fantasis. Apalagi, sejak ia memutuskan keluar dari korps kepolisian dan sepenuhnya total di KPK. Menjadi tanda tanya besar.
Ditambah dengan saudara sepupunya (baca : Anies Baswedan menjadi Gubernur Jakarta) semakin happy saja Novel. Sebab, dipastikan pundi-pundinya bertambah banyak. Masih ingat dengan pemberitaan balap mobil Formule E yang digagas Anies. Kegiatan itu tak jadi, karena berbagai alasan, pandemi corona.
Anggaran yang digelontorkan pada ajang yang tidak jadi digelar tersebut, tak tanggung-tanggung mendekati 1 triliun rupiah. Dan hanya 2 pers dihabiskan dengan penebangan pohon di sekitar area Monas. Serta, lahan tanah di Muncul, Jakarta Timur yang diduga menghabiskan anggaran tak jelas sebesar 152 miliar rupiah.
Dua kasus besar itu, yang diduga berpotensi kerugian negara. Novel seakan menutup mata rapat-rapat. Memanggil Anies ke KPK tak dilakukan. Malah yang dilakukan Novel setelah tak di KPK bergerilya minta bantuan ke Komnas HAM, PGI era Gomar Gultom, dan Ombudsman.
Jadi, jelas kan. Kenapa Novel masih ngotot mempengaruhi rekan-rekannya yang bekerja di KPK. Tujuannya, supaya Anies tak disentuh.
Dan, kita tahu kemenangan Anies menjadi Gubernur Jakarta dengan jualan ayat dan mayat. Hal itu identik dengan kelompok radikal. Dugaannya, Novel dilabeli yang dekat dengan kelompok radikal.