Jumat, 5 Juni 2026

Resah Disebut Anti China dan NKRI, Ahmad Dhani Tulis Surat ke Menhan

Photo Author
Tim Redaksi, Nawacita Post
- Rabu, 27 Februari 2019 | 08:55 WIB
Surabaya NAWACITA – Musisi yang kini mejadi tahanan politik, Ahmad Dhani mengaku resah dituduh anti China. Keresahan tersebut dituangkan dalam surat yang ia tujukan kepada Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.

Dihari persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya, selain membawa buku, ternyata Ahmad Dhani juga membawa surat untuk Ryamizard Ryacudu. Dalam dua lembar kertas berisi tulisan tangan itu, Dhani menyampaikan keresahannya.

Selain resah dengan tuduhan anti China yang menyerang dirinya, dalam surat itu Dhani juga mengaku tidak terima jika disebut sebagai pengujar kebencian yang ingin menghancurkan NKRI.

Dalam suratnya Dhani pun menceritakan pengalamannya bersama Dewa 19 di Aceh pada 2003. Kala itu, diceritakan Dhani, Dewa diperintahkan Ryamizard untuk memberi semangat warga Aceh agar tetap setia kepada NKRI.



Dhani pun menyebut, yang Dewa 19 kala itu terbilang patriotik atau cinta Tanah Air karena mempertaruhkan nyawa dari bahaya pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kapan saja bisa membidiknya.

"Di atas tank, kami konvoi keliling Kota Aceh. Bisa saja GAM menembaki saat itu. Tapi kami tetap teriakkan NKRI harga mati. Kalau sekadar ngomong 'Saya Indonesia Saya Pancasila', itu tidak sulit Jenderal," berikut sepenggal tulisan Dhani dalam surat untuk Menhan yang tampak di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (26/2/2019).

Surat tersebut tampak di PN Surabaya sebelum sidang kelima kasus pencemaran nama baik yang menjerat Dhani dimulai. Tadinya surat tersebut akan dibagikan ke pengunjung oleh pihak Dhani, namun terlebih dahulu diamankan petugas.

Berikut isi lengkap surat Ahmad Dhani untuk Menhan:

Surat kepada Jenderal Ryamizard Ryacudu

Siap Jenderal, lapor...
Saya divonis Hakim PN sebagai pengujar kebencian berdasarkan sara. Saya divonis 'anti China'. Saya divonis 'anti Kristen'

Kakanda Jenderal pasti tidak percaya bahwa saya anti China dan anti Kristen. Apalagi saudara saya yang nasrani dan partner bisnis saya yang kebanyakan Tionghoa. Tapi kenyataannya saya divonis begitu.

Kakanda Jenderal adalah saksi hidup bagaimana darah NKRI saya bergelora. Saat Kakanda adalah Kepala Staff AD, pada tahun 2003 Kakanda perintahkan Band Dewa 19 untuk memberi semangat warga Aceh untuk tetap setia kepada NKRI.

Di atas tank, kami konvoi keliling Kota Aceh. Bisa saja GAM menembaki saat itu. Tapi kami tetap teriakan NKRI harga mati. Kalau sekadar ngomong 'saya Indonesia saya pancasila', itu tidak sulit Jenderal.

Tapi kami nyanyikan Indonesia Pusaka di daerah operasi militer Aceh. Saat itu banyak kaum 'separatis' yang siap mendekat dan menembaki kami kapan saja...

Tapi sekarang situasinya Aneh Jenderal. Tapi sekarang situasinya aneh Jenderal. Setelah saya mengajukan upaya banding, saya malah ditahan 30 hari oleh Pengadilan Tinggi. Di hari yang sama keluar penetapan baru dari Pengadilan Tinggi yang akhirnya saya 'ditahan' karena menjalani sidang atas perkara yang seharusnya tidak ditahan (karena ancaman hukumannya di bawah 4 tahun).

Jadi salah paham Jenderal. Saya tidak sedang bercerita soal 'keadaan saya'. Tapi saya sedang melaporkan 'situasi politik' negara kita.

Apakah saya 'korban perang total' seperti yang dikabarkan Jenderal Moeldopo? Mudah-mudahan bukan. Tapi di penjara, saya merasakan 'tertekan' yang luar biasa. Demikianlah Kakanda Jenderal, saya melaporkan dari sel penjara politik.

Ahmad Dhani
Kangen sop buntut buatan Nyonya Ryamizard Ryacudu

Editor: Tim Redaksi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini