Kamis, 4 Juni 2026

Tidak Mesti jadi Psikolog untuk Bisa Memahami Orang lain

Photo Author
Admin 1, Nawacita Post
- Rabu, 24 Juli 2019 | 18:31 WIB
Jakarta, NAWACITA- Sosial (Socius/Latin: Teman). Manusia sebagai makhluk sosial selalu mengandaikan keterkaitan dengan sesama yang lain. Sama seperti slogan, No man is island yang tentunya tidak berdiri sendiri.

Untuk sebagian orang, belajar tentang ilmu perilaku manusia dengan sesamanya mungkin akan sangat menarik. Mulai dari anggapan dapat membaca pikiran orang, bisa meramal dan sebagainya adalah hal yang seakan melekat dengan ilmu psikologi. Meski mungkin dirasa cukup sulit, tapi ada lho ilmu psikologi yang sangat mudah dipahami bahkan sangat aplikatif untuk kehidupan sehari-hari. Bahkan siapapun bisa menerapkan ilmu ini, tanpa harus duduk bangku dengan beberapa SKS, kata Praktisi Psikologi Bernard Ndruru, M.Psi.

1. Perlukah Bercanda tentang Fisik Orang lain?

"Kamu cantik banget klo tersenyum, kayak kawanan yang di zoo itu"
"OMG, papa kamu penjual bola yah, badanmu koq bulat kayak gitu"

Pernyataan ini terkesan sangat sepele, karena ada muatan humor didalamnya. Namun, untuk sebagian orang hal sangat menggangu. Disaat bersamaan, mungkin responnya tidak ada, namun disaat sendiri orang yang kita candain itu akan berpikir dan bertanya-tanya tentang kebenaran itu pada dirinya. Sehingga dengan demikian, bisa saja dia akan menarik diri dari pergaulan karena merasa tidak percaya diri dan tidak pantas, bahkan bisa menjadi stress. So, ini namanya body shaming.

Meskipun kita enggak berniat melakukan body shaming, tapi jika apa yang kita ucapkan mengganggu atau menyakiti dia, maka kita tetap saja melakukan body shaming.

2. Berempatilah saat teman sedang curhat

Tidak semua orang bisa menjadi teman curhat yang menyenangkan. Kita tidak cukup hanya mendengarkan curhatannya saja. Tapi seni berempati mesti kita lakukan juga. Kita harus melakukan kontak mata dengannya, tidak menyela, memberikan kalimat-kalimat yang menunjukkan kalian tertarik dengan topiknya dan sebagainya dan inilah yang kita sebut sebagai empati.

Dengan melakukan itu, lawan bicara kita akan merasa lebih dihargai, bahkan merasa nyaman ketika berbincang. Coba deh kalau kamu lagi curhat sama seseorang, tapi dianya malah asyik melihat gadgetnya, tentu ada perasaan gimana gitu yah.

3. Mengelola Emosi itu penting

Emosi itu bukan berarti emosional/marah. Emosi adalah semua bentuk perasaan diri yang kita alami, seperti sedih, bangga, kecewa, sedih, senang dan bahagia. Apapun bentuk  emosinya, kita mesti mengelolanya dengan baik. Artinya gak mesti panik banget saat lagi sedih dan teriak-teriak saat lagi bahagia. Ekspresikan emosi itu sewajarnya dan jangan berlebihan.

Menenangkan diri dengan meditasi saat merasa sangat marah. Jangan terburu-buru marah-marah di sosial media, atau menunjukkan marahmu kepada semua orang. Selain membuat orang tidak nyaman, itu menunjukkan bahwa kamu belum mampu mengendalikan emosi yang kamu punya.

4. Menghargai perspektif yang berbeda

Perbedaan pendapat itu merupakan hal yang wajar. Enggak ada satupun orang di dunia ini yang memiliki pendapat yang sama persis akan suatu hal. Ibarat peribahas “Rambut sama hitam, tapi hati siapa yang tahu?” Kita tidak mesti menyatukan semua pendapat secara sempurna. Dan inilah bentuk dari toleransi, unity in diversity. Menghargai pendapat orang lain adalah mutlak dalam hidup bersosial, memberikan waktu untuk berbicara dan mungkin mendebatnya dalam bahasa yang sopan dan baik. Jangan hanya karena memiliki pendapat yang berbeda, kita langsung mengolok.

5. The Power of Positive Thinking

Pikiran positif membuat kita mampu menghadapi sesulit apapun tantangannya. Hal yang sama terjadi kalau kita berpikir negatif, yang mengarah pada sikap kurang menguntungkan diri sendiri. Satu hal yang bisa dicoba kala merasa putus asa, adalah dengan meyakinkan diri bahwa kita masih memiliki kesempatan dan mampu melakukannya.

Begitupun dengan niat. Saat kita meniatkan untuk melakukan sesuatu, pasti akan terlaksana bagaimanapun caranya. Mungkin pernah membaca buku The Secret yang membahas tentang tema macrocosmos dan microcosmos yang mengumpamakan keterkaitan antara dunia diri sendiri dengan dunia alam semesta. Dua hal itu memiliki kekuatan yang sangat besar untuk saling mendukung, sehingga kita perlu hati-hati dalam 'menggunakannya'. Jangan menyalahgunakan kekuatan itu untuk melakukan hal yang kurang bermanfaat bagimu.

6. Bersabar Menghadapi Orangtua

Orangtua adalah gambaran diri kita kelak saat menjadi tua. Bila kita kurang senang dengan segala pola tingkah orangtua yang terkadang keras dan suka memberi perintah. Sikap pertama yang mesti kita lakukan adalah berhenti sejenak dan berkhayal apakah aku juga bersikap hal yang sama nanti ketika sudah tua dengan anak-anakku? Hal ini akan mengerem rasa kesal yang sudah menggunung di hati kita.

7. Penampilan perlu Dijaga

Tentu, kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari penampilannya saja. Tetapi penampilan itu memang merupakan sesuatu yang penting, untuk menciptakan kesan bagi orang lain mengenai kita. Seperti kata pepatah, bahwa “kesan pertama menentukan kesan selanjutnya”.  Menjaga penampilan itu suatu keharusan, tapi gak harus mahal.

Namun, jangan pula terlalu berfokus pada penampilan, namun tidak berusaha merubah dan meningkatkan kualitas diri yang lain seperti pengetahuan dan pribadi. Keduanya harus seimbang. Intinya kita mesti terapkan prinsip know your self, be your self and give your self.

Tentu, masih banyak lagi ilmu perilaku yang sangat bermanfaat bagi kehidupan sosial. Ilmu psikologi adalah ilmu terapan yang bisa dilakukan kapan dan dimanapun. So, belajarlah memaknai diri selagi ada kesempatan.

Editor: Admin 1

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini