Ia juga turut serta dalam pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945, mengirimkan pasukan untuk ikut berperang di sana.
Selain itu, Kyai As’ad juga memimpin pelucutan senjata pasukan Jepang di Garahan, Jember, Jawa Timur pada September dan awal Oktober 1945.
Sebagai pemimpin dari lingkungan pesantren, As'ad memiliki pengaruh besar terutama di kalangan santri dan pejuang dari berbagai latar belakang sosial.
Petuahnya, yang mengajak untuk terus berjuang dengan tujuan menegakkan agama dan negara terus diingat di kalangan santri.
"Kalau kalian tidak mau repot, jangan berjuang! Karena perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan," demikian pesan Kyai As'ad.
Baca Juga: Jelajah 5 Desa dengan Nama Unik di Jawa Timur
Ia wafat pada tanggal 4 Agustus 1990 di dusun Sukorejo, Situbondo. Pemakamannya berada di kompleks Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah.
Suasana di makam pahlawan nasional ini selalu dipenuhi oleh peziarah setiap harinya, dengan lonjakan jumlah yang signifikan pada momen-momen istimewa. Misalnya, pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia, Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU), bulan suci Ramadhan, dan di hari Jumat.
Makam Kyai As'ad ini menjadi pusat perhatian dengan kedatangan peziarah dari berbagai penjuru daerah. Penghargaan gelar Pahlawan Nasional diberikan atas jasa dan perjuangannya pada 9 November 2016.
Artikel Terkait
Melacak 3 Daerah Penghasil Durian Terbesar di Jawa Timur
2.131 Santri di Jawa Timur Ikuti Program OPOP Digipreneur
Survei LSI: Prabowo-Gibran Unggul di Jawa Timur dengan 46,7%
Museum Trinil: Jejak Manusia Purba di Ngawi, Jawa Timur
Mimosa Lemon Squash: Sirup Segar Legendaris Asal Madiun, Cocok Untuk Oleh-oleh dari Jawa Timur