NAWACITAPOST.COM - Di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di dusun Sukorejo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur berdiri pondok pesantren (Ponpes) Salafiyah Syafi'iyah yang telah menorehkan jejak penting dalam sejarah Indonesia, .
Ponpes Salafiyah Syafi'iyah itu, didirikan pada tahun 1908 oleh KH Syamsul Arifin. Menurut Inisiator Jaringan Desa Nusantara M Ridwan, ponpes ini menjadi kawah candradimuka para pemikir-pemikir Islam berpengaruh dan ahli-ahli fiqh terkemuka.
"Dari pesantren tersebut, salah satunya lahir seorang ulama besar dan karismatik, KHR. As'ad Syamsul Arifin, yang memainkan peran vital dalam lahirnya Nahdlatul Ulama (NU), ormas terbesar di Indonesia," jelas Ridwan, usai ziarah ke Makam KH Syamsul Arifin, dalam waktu dekat ini.
Kyai As'ad, lanjut Ridwan, juga turut berjuang melawan penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia.
Peran utama KHR As'ad terhadap lahirnya NU menjadi signifikan ketika ia menjadi wasilah (perantara) bagi pesan-pesan KH Cholil Bangkalan yang ditujukan kepada KH Hasyim Asy’ari terkait permintaan restu mendirikan organisasi Jam’iyah NU.
KH Cholil mengirim As’ad untuk menyampaikan hasil istikharahnya. Kyai Cholil memberikan dua petunjuk yang perlu disampaikan oleh As’ad kepada Kyai Hasyim Asyari.
Baca Juga: Terungkap Alasan Prabowo Enggan Salami Anies Usai Debat Capres, Warganet: Habis Dikuliti Pak Anies!
Petunjuk pertama, pada akhir tahun 1924 As’ad diminta oleh Kyai Cholil untuk mengantarkan sebuah tongkat ke Tebuireng dengan disertai seperangkat ayat Al-Qur’an Surat Thaha ayat 17-23 yang menceritakan tentang Mukjizat Nabi Musa AS.
Petunjuk kedua, pada akhir tahun 1925, As’ad kembali diutus oleh Kyai Cholil untuk mengantarkan sebuah tasbih lengkap dengan bacaan Asmaul Husna berupa 'Ya Jabbar, Ya Qahhar' ke Tebuireng untuk diserahkan kepada gurunya.
"Pesan-pesan yang disampaikan, berupa tongkat dan tasbih dengan ayat-ayat Al-Qur’an, menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan mendirikan NU, kala itu," kata Ridwan.
Baca Juga: Debat Ketiga Capres, KPU Bakal Tegur Grace Natalie!
Peran besar As'ad juga tercermin dalam perlawanan terhadap penjajahan. Ia terlibat dalam perang gerilya antara tahun 1945 hingga 1949, dengan membangun perlawanan yang terorganisir.
Salah satu momen penting adalah ketika As'ad berhasil merampas senjata milik pasukan Belanda di Gudang Mesiu Dabasah Bondowoso pada akhir Juli 1947.
Artikel Terkait
Melacak 3 Daerah Penghasil Durian Terbesar di Jawa Timur
2.131 Santri di Jawa Timur Ikuti Program OPOP Digipreneur
Survei LSI: Prabowo-Gibran Unggul di Jawa Timur dengan 46,7%
Museum Trinil: Jejak Manusia Purba di Ngawi, Jawa Timur
Mimosa Lemon Squash: Sirup Segar Legendaris Asal Madiun, Cocok Untuk Oleh-oleh dari Jawa Timur