Armuji menyebut persoalan tersebut berakhir dengan saling memaafkan. Namun, ia tetap meminta agar jukir tidak lagi mengganggu, berkomunikasi secara tidak perlu, atau bercanda dengan YGL.
“Ya sudah saling memaafkan, ini kan masalahnya salah paham. Satunya menganggap guyonan, satunya menganggap bahwa itu pelecehan,” ujarnya.
Ia menegaskan, persoalan tersebut harus menjadi pembelajaran bagi para jukir agar lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan masyarakat, termasuk para pengemudi ojol yang setiap hari datang mengambil pesanan.
“Pembelajaran ke depannya, ya tadi saya sampaikan Doni (jukir), gak usah ngajak guyon sama YGL lagi,” tutur Armuji.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa dalih “sekadar bercanda” tidak otomatis menghapus dampak yang dirasakan korban. Candaan yang menyentuh ranah seksual, rasial, atau merendahkan martabat seseorang dapat membuat korban merasa terintimidasi dan tidak aman di ruang publik.
Bagi YGL, persoalan tersebut bukan sekadar candaan. Ia berharap kejadian serupa tidak kembali dialami pengemudi ojol lainnya yang datang mengambil pesanan di kawasan tersebut. ***