Kamis, 4 Juni 2026

'Obral-obrol', Pokja Judes Kupas Produk Jurnalistik vs Medsos

Photo Author
Elya Yudi, Nawacita Post
- Kamis, 16 Februari 2023 | 19:54 WIB
 Kelompok kerja Jurnalis Dewan (Pokja Judes) Kota Surabaya kembali menggelar forum group discussion (FGD) bertajuk 'Obral Obrol', Kamis 16 Februari 2023
Kelompok kerja Jurnalis Dewan (Pokja Judes) Kota Surabaya kembali menggelar forum group discussion (FGD) bertajuk 'Obral Obrol', Kamis 16 Februari 2023

Surabaya NAWACITAPOST - Kelompok kerja Jurnalis Dewan (Pokja Judes) Kota Surabaya memperingati Hari Pers Nasional 2023 dengan caranya sendiri.


Prihatin situasi produk Jurnalistik di tengah gempuran beragam media sosial, kelompok kerja yang banyak diisi wartawan senior maupun milenial ini mengangkatnya dalam forum group discussion (FGD) bertajuk 'Obral Obrol' yang selama ini rutin diadakan untuk mengangkat berbagai isu.


Mengangkat tema "Pers Produk Jurnalistik Vs Media Sosial", FGD kali mengundang beberapa narasumber yang kompeten dibidangnya maupun yang bersentuhan langsung dengan media, antara lain Arif Fathoni Ketua DPD Partai Golkar Surabaya sekaligus anggota Komisi A dan mantan Wartawan, serta Khusnul Khotimah Ketua Komisi D DPRD Surabaya.


Hadir pula perwakilan dari Eko Widodo selaku Wakil Sekretaris PWI Jatim serta Abdul Aziz (Duta Masyarakat) sebagai Praktisi Media, dan Abdul Hakim sebagai Praktisi Media (LKBN Antara).


Harapan besar diucapkan Arif Fathoni, agar Pers tetap bisa mengawal setiap babakan sejarah di Indonesia. Namun demikian pers harus tetap melakukan kontrol sosial terhadap penyelenggara roda pemerintahan.


"Makanya, kenapa saya bilang bahwa meningkatnya kualitas demokrasi atau menurunnya kualitas demokrasi itu ditentukan dengan teman-teman pers. Karena demokrasi tanpa pers itu sama dengan makan nasi tanpa ayam," ujar Arif Fatoni, Kamis (16/02/2023).


Dirinya juga berharap agar pers tidak menjadi media klarifikator atas apa yang muncul di media sosial. Sebab media sosial itu kan telanjang tanpa aturan sementara produk jurnalistik itu memiliki kode etik, memiliki standar-standar produk jurnalistik


"Kami berharap, Justru malah pers itu yang memberikan pencerahan kepada masyarakat Indonesia dengan menguji kualitas isu yang muncul di medsos karena apa, kalau ini dibiarkan medsos sebagai agitasi sebagai media propaganda ini lama-lama kalau kemudian tidak diantisipasi, distruksi informasi ini membahayakan nilai-nilai ke indonesiaan kita," papar Arif Fathoni.


Dia menyatakan bahwa Indonesia itu dibangun karena keberagamannya. Sementara kita lihat di media sosial sudah tidak ada lagi norma, tidak ada energi tata krama.

"Makanya kami berharap proses ini terus mengawal transisi demokrasi dan kehidupan sosial masyarakat kita agar tetap teguh pada nilai-nilai ke-Indonesiaan," tutupnya.


Di posisi yang sama, Khusnul Khotimah Legislator PDI Perjuangan mengungkapkan saat ini pers memiliki peran penting dalam membawa cita-cita luhur bangsa, yang berpegang pada nilai-nilai luhur Pancasila, agama, dan kebudayaan bangsa.


“Pers memiliki peranan penting untuk turut serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Menghadirkan pemberitaan yang profesional, independen dan menjunjung tinggi nilai kejujuran yang bukan berita hoax,” tegasnya.


Khusnul menyadari bahwa menjamurnya media sosial semakin membuat dunia pers tidak sedang baik-baik saja.


Namun Khusnul juga berharap, dengan kehadiran pers maka diharapkan semakin terdepan, dalam menghadirkan berita yang mendidik untuk mencerdaskan bangsa, dan menangkis berita hoax yang kerap kali terjadi di media sosial.


“Kita butuh informasi, kita butuh pengetahuan dan juga wawasan. Tapi semuanya itu harus mencerdaskan dan mengokohkan identitas karakter kebangsaan. Dengan hadirnya Pers diharapkan juga dapat mengedukasi masyarakat untuk mengantisipasi berita hoax yang semakin menjamur di media sosial,” ujarnya.

Halaman:

Editor: Elya Yudi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini