Kamis, 4 Juni 2026

Ketum Bersama Jajaran DPP AMI Turun Gunung ke Nganjuk, Ada Apa?

Photo Author
Tiarsin Nawacita, Nawacita Post
- Senin, 18 November 2024 | 12:30 WIB
Jajaran DPP Aliansi Madura Indonesia (AMI) bersama calon jajaran DPC AMI Kabupaten Nganjuk  (Foto Sakera Nawacita)
Jajaran DPP Aliansi Madura Indonesia (AMI) bersama calon jajaran DPC AMI Kabupaten Nganjuk (Foto Sakera Nawacita)

Baca Juga: 'Diduga Jadi Sarang Pungli', DPP AMI Bakal Laporkan dan Demo Rutan Medaeng

"Karena saya mendirikan organisasi bukan untuk kepentingan pribadi maupun golongan, mengapa pada akhirnya mendirikan AMI karena untuk merubah apa yang terjadi pada warga atau suku Madura yang ada di luar sana untuk mengangkat harkat dan martabat warga atau suku Madura dengan bekal SDM-nya," paparnya.

Baihaki Akbar menambahkan bahwa dirinya atas nama AMI juga sempat menolak keras pemekaran Pulau Madura mau menjadi provinsi, pada saat diskusi di salah satu universitas di Surabaya, dikarenakan dirinya tidak mau kalau pemekaran tersebut hanya sebatas perbaikan infrastruktur yang tidak diimbangi dengan SDM, yang pada akhirnya kurang maksimal.

"Alhamdulillah hingga saat ini belum terealisasi, semoga dalam 10 tahun ke depan tidak terealisasi terlebih dahulu, karena masih banyak sekolahan yang harus diperbaiki, dan pondok pesantren yang perlu diperbaiki, mungkin berbeda dengan di Nganjuk, di tempat saya itu masih ada yang berangkat sekolah masih memakai sandal jepit," imbuh Baihaki Akbar.

Baca Juga: Mangkir! Ketum AMI Tegaskan KPK Panggil Ulang Bupati Muhdlor

Masih bersama Baihaki Akbar, jadi setelah SDM sudah mumpuni atau di atas rata-rata, dari situlah warga atau suku Madura bisa memperjuangkan nasib orang lain.

"Bagaimana mungkin kalau SDM-nya belum dibangun atau belum cukup bisa memperjuangkan nasib orang lain, jadi di sini SDM-nya ditingkatkan dulu, baru setelah itu memperjuangkan nasib orang lain," kata Baihaki Akbar.

Baihaki Akbar menegaskan bahwa semua atribut atau almamater mulai dari kaos, kemeja hingga atribut yang lain itu diberikan secara cuma-cuma alias gratis kepada seluruh keluarga besar AMI, baik jajaran pengurus, anggota, hingga simpatisan.

Baca Juga: Bupati Muhdlor Tersangka, Ketum AMI Laksanakan Nadzarnya

"Jadi semuanya gratis, mulai dari KTA, SK, dan bahkan seluruh kegiatan AMI, tidak pernah meminta sumbangan kanan kiri, sehingga kalau ada yang meminta sumbangan Untuk mensupport kegiatan AMI dalam bentuk apapun itu tidak dibenarkan atau tidak berlaku dalam organisasi AMI, karena kan semuanya dilakukan secara mandiri alias independen," tandas Baihaki Akbar.

Bahkan Baihaki Akbar mengatakan bahwa kalau ada yang meminta sumbangan untuk kegiatan AMI bisa dilaporkan kepada dirinya dikarenakan hal tersebut tidak diperkenankan atau dilarang dalam organisasi Aliansi Madura Indonesia.

Baca Juga: Tujuh Kebaikan AMI Dalam Ramadhan 1445 H, Miliki Makna Pitulungan

"Seperti contoh kemarin sudah ada yang saya copot alias saya pecat di Kabupaten Sumenep, dikarenakan meminta sumbangan dengan nominal yang tidak bisa saya sebutkan dengan menggunakan nama organisasi AMI, kebetulan instansi tersebut melaporkan langsung kepada saya," pungkasnya.

 

 

Halaman:

Editor: Tiarsin Nawacita

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini