Minggu, 7 Juni 2026

Guncangan Global di Pintu Gerbang NTT, Wagub Serukan "Perang" Lawan Keterbatasan Fiskal

Photo Author
Tiarsin Nawacita, Nawacita Post
- Senin, 20 April 2026 | 21:04 WIB
Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma memberikan arahan kepada ASN saat Apel Kesadaran (Istimewa)
Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma memberikan arahan kepada ASN saat Apel Kesadaran (Istimewa)

NAWACITAPOST.COM — Di bawah langit pagi yang berselimut kecemasan ekonomi global, sebuah seruan provokatif namun penuh urgensi menggema dari halaman depan Gedung Sasando, pada Senin (20/4/2026), Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (Wagub NTT), Johni Asadoma, berdiri tegak di hadapan barisan Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam sebuah Apel Kesadaran yang terasa lebih seperti seruan mobilisasi umum daripada sekadar seremoni rutin.

Di tengah ketidakpastian dunia yang kian mencekam, Johni memberikan peringatan keras: NTT tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.

Darah Hitam di Selat Hormuz: Ancaman Nyata di Meja Makan Rakyat

Bukan sekadar retorika, Johni membedah anatomi krisis dengan menyeret narasi konflik berdarah antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menggambarkan betapa ketegangan di Selat Hormuz—jalur nadi distribusi minyak dunia yang jaraknya ribuan kilometer dari Kupang—telah mengirimkan gelombang kejut yang menghantam dapur-dapur masyarakat NTT.

Baca Juga: Tragedi Berdarah di Binong: Anak Tiri Terjangkit Narkoba Habisi Nyawa Ibu Sendiri

"Dinamika global ini bukan cerita pengantar tidur. Ini adalah kenyataan pahit yang kini hadir dalam bentuk kenaikan harga sembako dan meroketnya tarif transportasi udara yang mencekik rakyat kita," tegas Johni dengan nada suara yang dalam.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi tidak akan tinggal diam membiarkan masyarakatnya karam dalam badai inflasi. Namun, untuk melawan badai tersebut, pemerintah membutuhkan "bahan bakar" yang kuat, dan bahan bakar itu bernama Pendapatan Asli Daerah (PAD).

 

 

Ciputra Developmen (Istimewa)

 

Instruksi Keras: ASN Sebagai Perisai Ekonomi

Johni menatap tajam para ASN, menuntut mereka untuk berhenti sekadar bekerja di balik meja dan mulai bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi yang militan. Baginya, peningkatan PAD bukan lagi sekadar urusan administrasi atau target angka yang dingin, melainkan instrumen penyelamatan bagi daya tahan ekonomi daerah.

Baca Juga: Tragedi 45 Tahun Sirna dalam Sekejap: Skandal Investasi Fiktif Rp28 Miliar Guncang Jemaat Aek Nabara

  • Optimalisasi Radikal: Setiap perangkat daerah yang memiliki potensi penghasil PAD diperintahkan untuk bekerja dengan ketelitian "mata elang" dan inovasi tanpa batas.
  • Perbaikan Sistem: Administrasi yang usang dan pengawasan yang longgar harus segera ditinggalkan demi menutup celah-celah kebocoran anggaran.

Paradoks Pajak: Menertibkan "Rumah Sendiri"

Momen paling dramatis dalam arahannya terjadi saat Johni menyoroti ironi di dalam tubuh birokrasi sendiri: tunggakan pajak kendaraan dinas. Dengan nada yang tak mentoleransi alasan, ia menuntut para pimpinan perangkat daerah untuk segera melunasi kewajiban tersebut.

"Bagaimana mungkin kita meminta rakyat patuh, jika kendaraan dinas kita sendiri masih menunggak pajak? ASN harus menjadi teladan, bukan pengecualian," serunya.

Johni memaparkan angka yang cukup mengejutkan: jika tingkat kepatuhan pajak ditingkatkan hingga 75–80 persen, kas daerah akan mendapatkan suntikan dana segar yang signifikan tanpa perlu memeras keringat rakyat dengan pungutan baru. Ini adalah soal integritas dan kepercayaan publik.

Halaman:

Editor: Tiarsin Nawacita

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini