Kamis, 4 Juni 2026

Kebun Raya Mangrove Surabaya: Potensi Besar, Pengelolaan Setengah Hati

Photo Author
Elya Yuddy Irawan, Nawacita Post
- Senin, 22 Desember 2025 | 11:37 WIB

"Dana dari pusat turun berkurang, APBD tertekan. Kalau pariwisata tetap dikelola tanpa visi dan keberanian berinovasi, jangan heran kalau PAD stagnan," ujar politisi Gerindra tersebut tegas.

Kritik serupa juga menyasar wisata mangrove yang meskipun digadang-gadang sebagai satu-satunya kebun raya mangrove di Indonesia, kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih minim. Hingga pertengahan 2024, rata-rata pengunjung Kebun Raya Mangrove hanya mencapai enam ribu orang per bulan. Angka ini jauh dari potensi sebenarnya mengingat Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai jutaan jiwa.

Fasilitas Minimalis di Era Digital

Di era di mana wisatawan menginginkan pengalaman yang Instagramable dan serba canggih, fasilitas yang ditawarkan wisata mangrove Surabaya terkesan ketinggalan zaman. Meski terdapat spot foto dengan frame bambu dan menara pandang setinggi 12 meter, namun konsep wisata edukasi yang diusung masih terasa kaku dan kurang interaktif.

Jogging track yang terbuat dari bambu dan kayu memang menawarkan pengalaman dekat dengan alam, namun perawatannya kerap terabaikan. Wisata perahu yang menjadi daya tarik utama pun masih terbatas dengan kapasitas dan jadwal yang tidak fleksibel. Sentra wisata kuliner yang dijanjikan dalam strategi pengembangan 2025 hingga kini belum terwujud secara maksimal. Pengunjung hanya menemukan lapak dan meja kursi yang kosong di sentra kuliner kebun raya mangrove, tanpa konsep yang jelas.

Yang lebih memprihatinkan, promosi wisata mangrove hanya mengandalkan media sosial Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya yang jangkauannya terbatas. Tidak ada kampanye masif atau kolaborasi dengan pelaku industri pariwisata untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Padahal, konsep ekowisata mangrove sebenarnya memiliki daya tarik global jika dikemas dengan baik. Bayangkan, jika ada keterlibatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Association of The Indonesian  Tours and Travels Agencies (ASITA) dalam pengembangannya. Wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang sebelumnya hanya sekedar menginap di hotel jadi tertarik karena penawaran paket wisata di Surabaya, menarik bukan?. PAD Surabaya meningkat, tak perlu lagi berhutang!

Solusi: Apa yang Harus Dilakukan?

Momentum libur akhir tahun seharusnya menjadi evaluasi bagi Pemerintah Kota Surabaya untuk segera mengambil langkah tegas. Beberapa solusi konkret yang perlu segera diimplementasikan:

1. Akses Transportasi

Segera buka jalur angkutan umum khusus atau integrasikan dengan sistem transportasi publik Surabaya. Kolaborasi dengan penyedia transportasi online untuk memberikan tarif khusus bagi pengunjung wisata mangrove juga perlu dipertimbangkan.

2. Profesionalisme Pengelolaan

Tunjuk pengelola profesional yang berpengalaman di bidang wisata. Jangan lagi mengandalkan pola pengelolaan birokratis yang kaku. Berikan otonomi pengelolaan dengan target kinerja yang jelas dan terukur.

3. Resolusi Konflik Lahan

Segera selesaikan konflik kepemilikan lahan dengan memberikan kompensasi yang adil bagi masyarakat atau libatkan mereka dalam pengelolaan wisata. Model community-based tourism bisa menjadi solusi win-win.

4. Upgrade Fasilitas

Wujudkan sentra wisata kuliner dengan konsep modern namun tetap ramah lingkungan. Tambahkan fasilitas interaktif seperti pusat edukasi mangrove dengan teknologi augmented reality (penggabungan elemen digital: gambar, video, model 3D dengan dunia nyata secara real-time), watersport activities, dan paket wisata terintegrasi dengan destinasi lain di Surabaya Timur.

5. Kampanye Masif

Lakukan kampanye pariwisata yang agresif dengan melibatkan influencer, travel blogger, dan media online. Manfaatkan momentum event-event besar di Surabaya untuk mempromosikan wisata mangrove sebagai paket lengkap wisata alam, edukasi, dan kuliner.

Kesimpulan: Jangan Sia-siakan Potensi Luar Biasa

Wisata mangrove Surabaya memiliki potensi luar biasa untuk menjadi ikon pariwisata nasional bahkan internasional. Sebagai satu-satunya kebun raya mangrove di Indonesia dengan luas 34 hektar, kawasan ini seharusnya menjadi kebanggaan Surabaya dan kontributor signifikan bagi PAD.

Namun, tanpa keberanian untuk berinovasi dan mengelola secara profesional, wisata mangrove akan terus menjadi aset yang tidur. Di tengah kompetisi pariwisata yang semakin ketat, Surabaya tidak bisa lagi berpuas diri dengan status quo. Momentum libur akhir tahun 2025 ini seharusnya menjadi titik balik: apakah Pemkot Surabaya serius menggarap potensi wisata mangrove, atau membiarkannya terus "berjalan di tempat"?

Keputusan ada di tangan Pemerintah Kota Surabaya. Warga dan wisatawan menunggu. ***

Halaman:

Editor: Elya Yuddy Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini