Jumat, 5 Juni 2026

Dinilai Pemecahan Belah di Surabaya, AMI Kritik Keras Video Bermuatan SARA

Photo Author
Tiarsin Nawacita, Nawacita Post
- Selasa, 25 November 2025 | 20:52 WIB
Baihaki Akbar Ketua Umum AMI  (Istimewa)
Baihaki Akbar Ketua Umum AMI (Istimewa)

NAWACITAPOST.COM — Sebuah video yang diunggah akun Instagram @viralforjustice menuai kritik luas setelah narasi di dalamnya dinilai mengandung unsur provokatif dan bernuansa SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).

Video tersebut menyebut bahwa gerakan “#forjustice” hadir untuk “mengembalikan hak, harkat, dan martabat orang Surabaya, terutama orang Jawa,” sebuah klaim yang memicu kekhawatiran publik terkait potensi munculnya sentimen etnis di kota metropolitan tersebut.

Konten tersebut dinilai berpotensi mengganggu stabilitas sosial, terlebih di Surabaya merupakan kota besar dengan tingkat keberagaman suku, budaya, dan latar belakang yang berbeda yang sangat tinggi.

Baca Juga: Ketum AMI Datang ke Nganjuk, Calon Ketua DPC AMI Nganjuk: Kita Akan Laksanakan Aktivitas Sesuai Petunjuk DPP

Para pemerhati media sosial menilai narasi semacam ini berisiko memunculkan polarisasi dan gesekan horizontal jika dibiarkan berkembang tanpa klarifikasi.

Seperti yang disampaikan Aliansi Madura Indonesia (AMI), salah satu organisasi yang berada di Jawa Timur, memberikan tanggapan keras atas beredarnya video tersebut.

Baihaki Akbar Ketua Umum AMI, menyebut narasi dalam video itu sebagai bentuk komunikasi publik yang tidak bertanggung jawab.

“Kami mengecam keras narasi bernuansa SARA yang muncul dalam video tersebut. Ini bukan hanya tidak mendidik, tetapi juga memiliki potensi memecah belah masyarakat Surabaya. Tidak ada ruang untuk sentimen etnis dalam gerakan apa pun, apalagi yang mengatasnamakan keadilan,” tegas Baihaki.

Baca Juga: Ketum AMI Datang ke Nganjuk, Calon Ketua DPC AMI Nganjuk: Kita Akan Laksanakan Aktivitas Sesuai Petunjuk DPP

Ia mengungkapkan bahwa Surabaya adalah kota yang dibangun oleh kerja keras banyak kelompok, bukan milik eksklusif satu etnis tertentu.

“Surabaya tumbuh dari keberagaman. Madura, Jawa, Tionghoa, Arab, dan ratusan kelompok lain berkontribusi dalam membentuk karakter kota ini. Sangatlah tidak pantas jika ada pihak yang mencoba mengklaim Surabaya sebagai milik satu golongan saja,” ujarnya.

Baihaki juga mengingatkan bahwa masyarakat harus semakin cermat dalam menyikapi konten di media sosial yang mengandung narasi provokatif.

Ia menilai perlunya penguatan literasi digital agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh konten yang mengandung bias identitas.

Halaman:

Editor: Tiarsin Nawacita

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini