Kamis, 4 Juni 2026

Komisi D Sidak MPLS: Tak Ada Peloncoan, Fokus Pada Karakter dan Kesehatan Mental

Photo Author
Nawi., Nawacita Post
- Selasa, 15 Juli 2025 | 18:34 WIB
Anggota Komisi D DPRD Surabaya dari Fraksi Gerindra (Nawi)
Anggota Komisi D DPRD Surabaya dari Fraksi Gerindra (Nawi)

NAWACITAPOST.COM - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hari kedua di Surabaya pada Selasa (15/7/2025) menjadi momen pemantauan serius bagi Komisi D DPRD Kota Surabaya, khususnya bagi anggota Komisi D dari Fraksi Gerindra, Ajeng Wira Wati, yang turut dalam inspeksi mendadak (sidak) ke tiga sekolah menengah pertama, yakni SMP Negeri 1, SMP Negeri 6, dan SMP GIKI Surabaya.

Dalam sidak tersebut, Ajeng menyatakan bahwa pelaksanaan MPLS secara umum berjalan tertib dan sesuai pedoman, tanpa ada indikasi peloncoan maupun penugasan berlebihan terhadap siswa baru.

“Ini lumayan teratur ya. Di sana tidak ada peloncoan, tidak ada tugas-tugas yang memberatkan, baik dari segi atribut maupun barang-barang lainnya,” ujar Ajeng kepada wartawan usai sidak.

Menurut Ajeng, MPLS di ketiga sekolah tersebut difokuskan pada penyampaian materi pengenalan sekolah dan pembentukan karakter siswa, bukan sekadar perkenalan formal atau tekanan fisik.

“Anak-anak difokuskan untuk menerima materi, mengenal apa saja yang akan dipelajari, termasuk tentang kesehatan mental, cara bergaul yang sehat, hingga manajemen waktu untuk kegiatan ekstrakurikuler,” jelasnya.

Ajeng juga menekankan pentingnya penanaman nilai-nilai non-akademik dalam MPLS, termasuk pengembangan minat dan bakat. Ia mengapresiasi sekolah yang mengalokasikan waktu khusus, seperti setiap hari Kamis, untuk mengenalkan potensi di luar pelajaran.

“Supaya nanti anak-anak ini tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tapi juga bisa mengembangkan diri secara non-akademik. Itu penting untuk pembentukan karakter mereka,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ajeng menyoroti pentingnya memastikan bahwa seluruh sekolah menerapkan prinsip ramah anak, sesuai dengan arahan dari Kementerian Pendidikan dasar. Dalam kunjungannya, ia sempat berbincang dengan sejumlah anggota OSIS untuk mengkonfirmasi ritme kegiatan dan peran mereka dalam membimbing adik kelas.

“Kita pastikan tidak ada sistem senioritas atau junioritas. OSIS pun kita ajak diskusi untuk cek bagaimana mereka menjaga ritme jadwal dan mengajak kekompakan bagi siswa-siswa baru,” jelasnya.

Ajeng juga berharap, MPLS bisa menjadi ajang untuk menumbuhkan rasa percaya diri siswa sejak dini.

“Ini adalah salah satu bentuk pembentukan karakter. Bagaimana mereka bisa tampil percaya diri di depan teman, bisa memimpin diri sendiri, bahkan memimpin orang lain, dan tidak mudah terpengaruh oleh media sosial atau dunia maya,” tegasnya.

Dalam sidak tersebut, Ajeng menyatakan belum menemukan adanya siswa berkebutuhan khusus yang masuk di tiga sekolah yang dikunjungi. Namun ia menegaskan pentingnya data dan koordinasi yang akurat antara sekolah dasar dan SMP, agar siswa berkebutuhan khusus tidak terlewat dalam proses pendampingan.

“Memang belum ada yang kami temui di tiga sekolah tadi. Tapi tentu di Surabaya ada. Biasanya difokuskan di sekolah ramah disabilitas seperti di beberapa SMP Negeri. Tapi ini tidak menutup kemungkinan siswa berkebutuhan khusus masuk sekolah umum,” jelasnya.

“Kami mendorong Dinas Pendidikan untuk mengecek kembali data dari SD. Kalau di SD sudah ada penandaan bahwa siswa itu berkebutuhan khusus, maka harus dikomunikasikan ke SMP tujuan agar mereka bisa didampingi,” tambah Ajeng.

Halaman:

Editor: Nawi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini