NAWACITAPOST.COM — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mencekam dan melanda kawasan konservasi strategis di Jawa Timur akhirnya berhasil ditaklukkan sepenuhnya.
Berdasarkan keterangan resmi yang dirilis pada Senin, kawasan puncak dan lereng yang membentang di Gunung Arjuno dan Gunung Welirang kini dinyatakan telah terbebas dari ancaman si jago merah, menyusul lenyapnya seluruh indikator titik panas atau hotspot dari sistem pemantauan nasional.
Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Agustiningtyas Marini, dalam keterangan resminya memastikan bahwa pemadaman total tercapai pada Minggu malam (25/10/2026). Keberhasilan ini mengakhiri pekan-pekan kritis penanganan darurat yang melibatkan berbagai elemen gabungan di tengah medan topografi pegunungan yang sangat ekstrim dan terjal.
Baca Juga: Jaga Kredibilitas Fiskal, Menkeu Suahasil Nazara Perkuat Strategi Ekonomi di Forum Global
"Untuk di Sipongis sudah nihil semua. Begitu juga dengan titik-titik lain yang sebelumnya sempat tersisa, saat ini sudah padam total," kata Tyas dengan nada lega.
Perjuangan Ekstrem Tim Gabungan dan Peran Faktor Alam
Perjuangan memadamkan amukan api di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo bukanlah perkara mudah. Sejak berkobar pada pertengahan Oktober 2026, karhutla ini telah menjangkau empat wilayah administratif sekaligus, yakni Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Mojokerto, hingga Kota Batu.
Luasnya cakupan wilayah serta karakteristik topografi yang bertebing curam sempat membuat tim darat kewalahan menjangkau titik-titik bara yang tersembunyi. Kendati demikian, kerja keras tim gabungan akhirnya mendapat titik terang berkat perubahan cuaca di penghujung Oktober.
Hujan deras yang mengguyur sebagian besar kawasan hutan dalam beberapa hari terakhir menjadi faktor krusial yang membantu meredam sisa bara api secara alami, melengkapi operasi pendinginan yang dilakukan secara masif oleh petugas di lapangan.
Baca Juga: Sorot Keberhasilan Kawasan, Suahasil Nazara Pamerkan Ketangguhan Indonesia dan ASEAN di World Bank
Meskipun api telah padam sepenuhnya, dampak ekologis dari peristiwa ini tetap menjadi perhatian serius. Berdasarkan evaluasi sementara dari pihak pengelola, area yang paling parah terdampak didominasi oleh ekosistem alang-alang dan semak belukar.
Kendati demikian, secercah harapan muncul karena sebagian besar pohon berukuran besar di kawasan tersebut dilaporkan masih mampu bertahan dari jilatan api. Pihak UPT Tahura Raden Soerjo berkomitmen untuk terus memantau ketat kesehatan vegetasi guna memastikan pemulihan ekosistem berjalan optimal.
Penyelidikan Hukum Resmi Dimulai
Seiring dengan terkendalinya situasi darurat dan pulihnya keamanan kawasan, fokus kini beralih pada aspek penegakan hukum. Aparat kepolisian resmi turun tangan untuk mengusut tuntas pemicu utama di balik musibah karhutla yang mengancam kelestarian flora dan fauna di kawasan konservasi tersebut.
Pihak UPT Tahura Raden Soerjo menyatakan telah berkoordinasi secara intensif dengan jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur serta kepolisian resor setempat. Saat ini, tim penyidik tengah mengumpulkan berbagai barang bukti fisik di lapangan serta meminta keterangan dari sejumlah saksi dan pihak terkait.
Baca Juga: Jaga Kredibilitas Fiskal, Menkeu Suahasil Nazara Perkuat Strategi Ekonomi di Forum Global
"Terkait penyebab kebakaran kemarin, dari jajaran Polda dan jajaran Polres turut membantu untuk melakukan investigasinya. Kita belum tahu hasilnya seperti apa," ungkap Tyas.
"Yang jelas kita sudah laporkan serta koordinasikan dengan pihak aparat penegak hukum. Terkait perkembangannya nanti kita juga menunggu dari hasil investigasi yang sekarang sedang berjalan," tambahnya.
Pemantauan Ketat Melalui Sistem SiPongi
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang guna mencegah eskalasi serupa, pengawasan intensif terus diberlakukan secara berlapis.
Berdasarkan pemutakhiran data pada Minggu (25/10/2026), sistem pemantauan dan peringatan dini kebakaran hutan dan lahan (SiPongi) yang berada di bawah kendali Kementerian Kehutanan telah mengonfirmasi bahwa tidak ada lagi hotspot atau titik panas yang terpantau di seluruh sektor Gunung Arjuno dan Gunung Welirang.
Baca Juga: Sorot Keberhasilan Kawasan, Suahasil Nazara Pamerkan Ketangguhan Indonesia dan ASEAN di World Bank
Meski demikian, posko pemantauan tetap disiagakan untuk mengantisipasi potensi kemunculan titik bara sekunder akibat sisa-sisa abu di dalam tanah.
Pemerintah bersama aparat penegak hukum mengimbau masyarakat luas, terutama para pendaki dan warga sekitar kawasan hutan, untuk meningkatkan kewaspadaan secara maksimal terhadap potensi pemicu kebakaran di musim pancaroba ini demi menjaga kelestarian alam warisan leluhur nusantara.