NAWACITAPOS.COM — Guncangan gempa bumi magnitudo 7,7 yang meluluhlantakkan Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menyisakan duka mendalam dan ketakutan hebat bagi ratusan ribu warga. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu (23/8/2026), bencana mengerikan ini telah menelan 91 korban jiwa, melukai 1.286 orang, memaksa 156.782 warga mengungsi, serta merusak 58.360 rumah.
Di tengah terjangan lebih dari 5.000 gempa susulan yang terus menteror, warga Desa Wolowea, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, memilih mengungsi secara mandiri. Kerusakan fisik bangunan, sulitnya pasokan air bersih, hingga terhentinya aktivitas sekolah menjadi kenyataan pahit yang harus mereka hadapi. Namun, luka paling dalam justru menghantam psikologis para pengungsi. Trauma Pasca Gempa M7,7 Flores merenggut rasa aman mereka hingga ke tingkat yang sangat ekstrem.
Salah seorang warga Desa Wolowea, Susana, membeberkan beratnya kondisi psikologis yang dialaminya bersama warga lain akibat reruntuhan bencana ini:
“Untuk trauma, jangankan orang lain, saya sendiri sampai sekarang masih sangat trauma. Sampai-sampai duduk, berdiri, bahkan jalan pun kadang oleng-oleng,” ungkap Susana.
Selain ancaman psikologis, krisis kebutuhan dasar kini mencekik para pengungsi di Nagekeo. Susana menegaskan bahwa lebih dari 10 rumah di desanya rusak berat dan warganya amat membutuhkan ulur tangan mendesak.
“Untuk korban terdampak dalam wilayah desa kami bisa lumayan banyak. Tidak hanya sembako atau perlengkapan bayi dan balita, tetapi memang air bersih juga sulit,” ungkap Susana.
“Rusak berat sekitar 10 lebih,” ujarnya.
Mengenai respons dari pihak berwenang, Susana mengakui bahwa upaya bantuan telah berjalan meski bertahap mengingat luasnya dampak bencana di wilayah Kabupaten Nagekeo.
“Respons Pemdes sedang dijalankan dan ada satu-dua pihak yang sudah berbagi, yang lainnya dalam proses. Mau bilang cepat juga tidak terlalu, lambat juga tidak, karena banyak wilayah dan warga yang terdampak, karena untuk area Kabupaten Nagekeo,” katanya.
“Semoga cepat lekas pulih kembali,” harap Susana.
Kini, ribuan warga Flores yang terombang-ambing di pengungsian hanya bisa bersiap menghadapi ancaman gempa susulan sambil menyelimuti diri dengan harapan agar bantuan kemanusiaan—khususnya air bersih dan kebutuhan balita—dapat segera sampai secara merata. Petugas terus mengimbau masyarakat untuk menjauhi struktur bangunan yang retak guna menghindari jatuhnya korban tambahan.(FKD)