Jumat, 21 Agustus 2026

Keajaiban Flores: Kisah Paulina Pobi, Nenek 84 Tahun Selamat Usai Bertahan 4 Hari

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:41 WIB
Menyoroti insiden seorang nenek 84 tahun yang bertahan selama 4 hari dari reruntuhan akibat gempa yang melanda NTT. Berikut ini kisahnya. (Instagram.com/@bmh_jatim)
Menyoroti insiden seorang nenek 84 tahun yang bertahan selama 4 hari dari reruntuhan akibat gempa yang melanda NTT. Berikut ini kisahnya. (Instagram.com/@bmh_jatim)
 
NAWACITAPOST.COM— Kisah dramatis menyelimuti penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kisah Paulina Pobi, Nenek 84 Tahun yang Selamat usai Bertahan 4 Hari di bawah puing-puing rumahnya, menyedot perhatian publik di media sosial pascadihantam gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Flores.

Ibu berumur 84 tahun tersebut dievakuasi warga dari reruntuhan bangunan di Desa Nitunglea pada 18 Agustus 2026. Rumah tempat tinggalnya di sebuah pulau kecil sebelah utara Flores hancur dan rata dengan tanah akibat gempa dahsyat yang mengguncang pada 15 Agustus 2026 lalu.

Saat gempa menerjang, Paulina tertimbun hidup-hidup di bawah reruntuhan dinding bambu. Pihak keluarga yang awalnya mengira ia telah dibawa ke posko pengungsian, baru menyadari keberadaannya saat kembali ke lokasi rumah pada hari keempat.
 

Warga setempat, Rudolfus Riba menuturkan korban terperangkap di bawah reruntuhan selama 4 hari penuh tanpa asupan asupan nutrisi, namun kondisi kesehatan Paulina terbilang sangat stabil.

"Karena lumpuh, ia tidak bisa bergerak atau berbicara, sehingga baru pada hari keempat keluarganya akhirnya menemukannya,” ujar Riba sebagaimana dikutip dari Straits Times, pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Riba memastikan kondisi sang nenek tidak ada luka sama sekali, dan hanya sedikit lemas karena tidak makan atau minum selama berhari-hari.

"Rasanya sulit dipercaya, hampir seperti keajaiban," imbuhnya.
 

Dievakuasi ke Puskesmas di Tengah Terisolasinya Desa

Terpisah, Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno memastikan korban berhasil dievakuasi oleh masyarakat Desa Nitunglea pada Selasa, 18 Agustus 2026 siang. Bambang memastikan korban selamat dan masih dirawat di puskesmas setempat.

"Dievakuasi kemarin siang, sudah dibawa ke Puskesmas terdekat korban selamat," ujar Bambang dalam keterangannya, pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Proses penyelamatan ini terjadi di tengah terisolasinya Desa Nitunglea akibat akses jalan tertutup material longsoran seperti batu besar dan pohon tumbang. Untuk mencapai desa tersebut, warga dan tim penolong harus berjalan kaki selama 3 jam dari dermaga.

Penanganan Dampak Psikologis Pengungsi

Dalam kesempatan berbeda, Kapolda NTT, Irjen Pol Rudi Darmoko mengatakan perlunya trauma healing bagi para pengungsi khususnya anak-anak pascabencana gempa dahsyat yang melanda NTT. Rudi menilai hal itu karena bukan saja mengalami luka fisik, tapi yang harus diperhatikan tentang kesehatan mental bagi para penyintas.
 

Di titik pengungsian Lapangan Gelora Samador, dilaporkan telah ditempati 1.207 pengungsi dan pihak kepolisian setempat masih memberikan trauma healing bagi para pengungsi.

"Para pengungsi ini bukan hanya mereka bukan hanya fisiknya saja yang terluka tapi ada juga kesehatan mental itu yang tidak boleh kita abaikan," ungkap Rudi dalam keterangannya, pada Selasa, 18 Agustus 2026.

"Itu yang kita atensi, terlebih bagi anak-anak," tandasnya.

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini