teknologi

Di Tengah Badai Sentimen Global, Pengamat Perkirakan IHSG Uji Support 6.000 Hari Ini

Jumat, 2 Oktober 2026 | 16:46 WIB
Ilustrasi chart IHSG yang menggambarkan pergerakan indeks saham di pasar modal. (Magnific)

NAWACITAPOST.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di ambang ujian krusial pada perdagangan Jumat (2/10/2026).
 
Pergerakan bursa saham domestik dibayangi dinamika pasar keuangan global yang sarat ketidakpastian, membuat para pelaku pasar menahan napas mengamati pergerakan indeks di area-area kritis.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyoroti penentu arah IHSG yang kini berhadapan langsung dengan level krusialnya.
 
Baca Juga: Aksi Kemanusiaan Menembus Medan Ekstrem: Bea Cukai Labuan Bajo Pasok Bantuan Gempa NTT
 
Menurut analisisnya, pergerakan indeks akan sangat bergantung pada ketahanan benteng pertahanan psikologis tersebut.

level 6.000 menjadi area penting bagi pergerakan IHSG. Jika indeks ditutup di bawah level tersebut, IHSG berpotensi menguji level berikutnya di kisaran 5.800-5.900, ujar Ratna.

Kendati dibayangi kekhawatiran pengujian benteng bawah, IHSG sebenarnya mengawali sesi perdagangan dengan sinyal perlawanan tipis.
 
Pada pembukaan perdagangan pagi, IHSG tercatat menguat 8,58 poin atau 0,14 persen ke level 6.018,08. Penguatan terbatas ini juga diikuti oleh indeks saham unggulan LQ45 yang naik 0,90 poin atau 0,15 persen menuju level 593,28.

Tekanan terhadap bursa domestik tak lepas dari gejolak di pasar keuangan dan komoditas internasional. Dari pasar global, dinamika obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) menyedot perhatian utama para pelaku pasar.
 
Baca Juga: Perkuat Benteng Iklim, Wawali Harris Bobihoe Tekankan Kolaborasi Lintas Daerah di APEKSI
 
Terjadi pergeseran arus modal seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve, yang memicu investor beralih memburu surat utang pemerintah AS.

Di sisi lain, lonjakan harga energi turut memperkeruh peta sentimen global. Harga minyak mentah jenis Brent pada perdagangan Kamis (1/10/2026) melesat tajam 4,4 persen hingga menyentuh level 102 dolar AS per barel.
 
Lonjakan ini memicu kekhawatiran baru terkait potensi tekanan inflasi energi secara global.

Kondisi eksternal yang penuh ketegangan ini tecermin dari pergerakan bursa saham kawasan Asia pada Jumat pagi yang cenderung bervariasi dan cenderung tertekan. Indeks Nikkei Jepang terkoreksi 0,62 persen dan KOSPI Korea Selatan melemah 0,47 persen.
 
Koreksi tajam melanda indeks Hang Seng Hong Kong yang merosot 2,37 persen, sementara indeks Shanghai China menjadi satu-satunya yang bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,23 persen.
 
Baca Juga: Ketuk Palu Sahkan APBN 2027, DPR RI dan Suahasil Nazara Kunci Benteng Ekonomi Negara

Padahal, bursa saham Amerika Serikat di Wall Street sebelumnya ditutup menguat tipis pada perdagangan Kamis malam. Indeks S&P 500 naik 0,19 persen, sedangkan Nasdaq Composite dan Dow Jones Industrial Average masing-masing mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,04 persen.

Dari dalam negeri, kondisi fondasi makroekonomi Indonesia sebenarnya menampilkan kombinasi ketahanan dan tantangan. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 berada di level 3,28 persen YoY.
 
Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan inflasi Agustus sebesar 3,19 persen, dengan tingkat inflasi bulanan sebesar 0,30 persen dan inflasi inti terjaga di angka 2,84 persen.

Kabar baik berhembus dari sektor perdagangan luar negeri. Indonesia berhasil mengamankan surplus neraca perdagangan sebesar 3,55 miliar dolar AS pada Agustus 2026.
 
Capaian ini melonjak signifikan dibandingkan surplus bulan Juli yang hanya berada di angka 120 juta dolar AS, menyuplai energi positif di tengah turbulensi pasar modal.
 
Baca Juga: Luruskan Polemik Lahan Batam, Ditpam BP Batam Tegaskan KSB Punah dan Sagu Hati Tali Asih

Dengan hamparan sentimen positif dan negatif yang saling bertabrakan ini, fokus utama para investor domestik maupun asing tertuju penuh pada penutupan perdagangan akhir pekan.
 
Level 6.000 menjadi area vital yang menentukan arah melangkah IHSG berikutnya—apakah sanggup bertahan atau justru terpaksa meluncur menembus ruang pengujian support 5.800-5.900.

Tags

Terkini