Majalengka, NAWACITAPOST.COM – Keputusan DPP PAN yang mengalihkan dukungan dari Ketua PUAN PAN Majalengka, Sherly Kusuma kepada Dena M. Ramdhan sebagai kandidat dalam Pilkada Majalengka 2024 menuai gelombang kekecewaan semua pihak.
Kekecewaan itu muncul diantaranya diantaranya ialah Ketua Majelis Pertimbangan Partai PAN Majalengka, H. Tete Sukarsa, bahwa adanya keputusan dari DPP soal rekomendasi yang diberikan kepada Dena M. Ramdan telah mencederai demokrasi ditubuh internal PAN.
"Di awal, DPP PAN sudah memberikan lampu hijau bagi Sherly untuk melakukan sosialisasi sebagai calon dari PAN. Bahkan, Sherly memasang baliho dan aktif bersosialisasi sesuai arahan awal dari DPP. Namun, aneh bin ajaib, rekomendasi pada akhirnya justru diberikan kepada orang lain," ungkap Tete, Selasa (29/10/2024).
Sherly Kusuma Ketua PUAN PAN Majalengka yang juga istri dari Ketua DPD PAN Majalengka, Rona Firmansyah telah menunjukkan minatnya untuk maju sebagai calon kepala daerah dari PAN.
Langkah ini mendapat respons positif dari DPP PAN dengan diberikannya rekomendasi awal dan mendorong Sherly untuk melakukan sosialisasi.
Akan tetapi, perjuangan dari Istri Ketua PAN itu seakan tak dihargai oleh DPP PAN dengan munculnya rekomendasi Dena sebagai wakil Bupati yang mendampingi Eman Suherman.
Politisi besutan Amien Rais itupun mengucapkan bahwa posisi partainya saat ini mempunyai peluang yang terbuka untuk mengusung pasangan nya sendiri.
Pasalnya, berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi terbaru memberikan peluang bagi PAN, yang memiliki perolehan suara 7,4 persen di Majalengka, untuk berkoalisi dengan partai lain dan tetap mengusung kader internal, sehingga mampu mencapai ambang batas 7,5 persen.
“Secara hitungan politik, PAN hanya butuh sedikit tambahan agar bisa mengusung Sherly dan Eman. Ini hal yang seharusnya bisa diupayakan,” ungkapnya.
Pilkada Arena Politisi Menentukan Arah Kebijakan
Ketua MPP PAN Majalengka itu menilai bahwa dari dua kontestan yang sedang bertarung di Majalengka yang memiliki latar belakang Partai politik hanya Paslon No urut dua.
Dia menilai pasangan calon Karna Sobahi-Koko Suyoko dengan Eman-Dena dalam Pilkada 2024 ini memiliki banyak perbedaan dan kapasitas. Menurutnya, pasangan nomor urut 2, Karna dan Koko, merupakan figur dengan latar belakang politik yang kuat.
Menimbang hal tersebut, menurutnya Pilkada adalah momentum bagi para aktivis parpol untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam mengambil peranan di eksekutif baik Provinsi mau Daerah.
"Pak Koko paham betul bagaimana melelahkannya menjadi kader partai, sementara bagi Pak Karna, tantangannya bahkan lebih berat karena posisinya sebagai ketua partai," tegasnya.