Oleh : Alan Barok
Pilkada adalah momen penting bagi masyarakat untuk menentukan pemimpin yang akan membawa perubahan di daerahnya. Pemilihan kepala daerah menjadi tolak ukur bagaimana calon pemimpin mampu merebut hati rakyat, bukan hanya melalui visi misi, tetapi juga melalui rekam jejak dan kedekatan personal dengan masyarakat.
Majalengka, sebagai salah satu kabupaten strategis di Jawa Barat, juga sedang bersiap menghadapi pemilihan bupati. Dua tokoh yang menjadi sorotan adalah Eman Suherman dan Karna Sobahi, masing-masing membawa kekuatan yang berbeda dalam menarik perhatian pemilih.
Namun, apa yang menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam memilih mereka? Sebuah survei baru-baru ini memberikan gambaran yang menarik tentang persepsi publik terhadap kedua calon ini.
Berdasarkan rilis survei yang dilakukan Indikator per 8 - 13 September 2024, hasilnya cukup mengejutkan. Eman Suherman unggul dengan poin 26,5% karena dianggap sebagai sosok yang perhatian pada rakyat.
Hal ini tentu menjadi nilai lebih, terutama dalam iklim politik lokal yang semakin kompetitif. Di sisi lain, Karna Sobahi juga tidak kalah menonjol, meraih 32,1% dukungan berdasarkan pengalaman panjangnya di pemerintahan. Meskipun berbeda dalam pendekatan, kedua kandidat ini memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Majalengka.
Menariknya, alasan pemilih memilih Karna Sobahi yang menonjol pada poin pengalaman di pemerintahan menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih mempercayai stabilitas dan rekam jejak dalam memimpin.
Sebaliknya, Eman Suherman terlihat berhasil memupuk citra sebagai "calon yang peduli," meskipun pertanyaannya adalah, sampai sejauh mana "kepedulian" itu memiliki dampak nyata dalam kebijakan?
Antara Kepedulian dan Pengalaman
Eman Suherman dengan klaim sebagai sosok yang perhatian pada rakyat tentu menjadi daya tarik emosional, terutama di kalangan pemilih muda dan mereka yang merindukan pemimpin yang lebih "membumi".
Namun, sering kali "kepedulian" bisa menjadi ungkapan yang manis, namun sulit dibuktikan dalam kebijakan konkret. Dalam retorika politik, banyak yang bersikap "peduli" namun belum tentu memiliki kapasitas yang kuat dalam implementasi.
Dalam hal ini, pertanyaannya bukan hanya tentang siapa yang peduli, tapi siapa yang mampu mengeksekusi kebijakan yang benar-benar menguntungkan rakyat?
Sementara itu, Karna Sobahi yang mendapat dukungan besar karena pengalamannya di pemerintahan, menunjukkan bahwa masyarakat masih menghargai stabilitas dan konsistensi dalam kepemimpinan.