Jakarta, NAWACITAPOST.COM – Bahwa politik itu keras dan memang kejam. Saya tahu itu. Bak kehidupan di rimba raya. Yang kuat menang, yang lemah tersingkir, begitulah hukumnya. Pernyataan itu diucapkan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono biasa disapa SBY dalam acara bertajuk malam silaturahmi dan kontemplasi partai dmeokrat, Cianjur, Minggu (17/4/2022).
Baca Juga : Angelina Sondakh Menangis, SBY Cuek
Ungkapan Presiden RI ke-6 itu juga sekaligus menegaskan tentang tidak adanya dua matahari kembar, yang ada satu matahari, dibawah Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Baca Juga : SBY Dicuekin Jokowi dan Surya Paloh, Ada Apa?
Untuk membuktikannya, di acara malam itu, hanya SBY dan AHY yang tampil memberi sambutan. Sepertinya, Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas tak diberi tempat untuk tampil diacara itu, atau mungkin ia tak hadir.
SBY juga menandaskan dalam pidatonyam bahwa apa yang dilakukan AHY sudah di jalan yang benar, serta mengingatkan kepada kader Demokrat harus satu komando dibawah kepemimpinan putra sulungnya, AHY. Juga meminta para kader Demokrat meluruskan jalannya dan tidak menghalalkan segala cara.
Pernyataan SBY di acara tersebut, kemungkinan adanya gelaran Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Demokrat Jatim yang bergejolak, dimana hasilnya 25 DPC se Jatim memilih Bayu Airlangga, sementara sisanya 13 DPC memilih Emil Dardak.
Hasil Musda Jatim ini telah diambil DPP, dan DPP telah menetapkan Emil Dardak sebagai Ketua DPD Demokrat Jatim. Rupanya, kubu Bayu yang konon kabarnya didukung putra bungsu SBY, Ibas merasa tak terima dengan keputusan DPP itu.
Senada dengan SBY, anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Syarrif Hasan menuturkan bahwa pernyataan Pak SBY itu untuk memperkuat organisasi di tubuh Demokrat.
Hal itu juga menegaskan, bahwa Demokrat sudah full ditangan AHY. Sedangkan, kemunculan SBY kemarin ( Minggu, 17 April 2022) di acara malam itu karena kerinduan kader akan sosok SBY. Sehingga momen silaturahmi buka puasa bersama sekaligus kontemplasi partai Demokrat juga untuk memperkuat organisasi pada pemilu 2024.
Kalaupun ada kejadian Demokrat di Jawa Timur itu hanya bagian kecil dan itu sudah sesuai dengan AD/ART partai. Yaitu terkait Musda ada yang hasilnya nomor urut 1 dan 2 diserahkan ke DPP untuk dilakukan Fit and Proper Test.
Sedangkan Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno. “Tampilnya SBY ke publik itu, berarti ada yang urgen dan penting di Demokrat. Itu ada dua faksi yang berada dibawah permukaan. Faksi itu mulai muncul ketika AHY sebagai Ketum Demokrat dan ada para kader senior lama yang tidak terakomodir, dan itu berimbas kepada musda dan kepengrusan di level daerah. Menimbulkan gejolak yaitu terpilih di Musda tapi diganti oleh penunjukan ketua umum AHY," jelas dosen di UIN Jakarta, di Kanal YouTube CNN Indonesia, Senin (18/4/2022) malam.
Apalagi kata Adi, pernyataan SBY itu tidak lahir dari ruang hampa, dan kekisruhan itu muncul saat pemilihan di Musda antara dua anak SBY : AHY dan Ibas.
Kemunculan SBY ke publik juga untuk meredam gejolak dan menengahi pengaruh dua putra mahkota yang mulai rebutan pengaruh di internal Demokrat. Ini yang tidak sehat.
Yang jelas dan pasti, pernyataan SBY soal hanya ada satu matahari, itu merupakan kegelisahan dalam konteks ini SBY supaya tidak terjadi faksionalisasi antara kubu Ibas dan AHY dalam hal. Bahkan ada yang mengatakan Ibas Ketua Umum Demokrat di DPR, AHY Ketua Umum Demokrat di DPP, pungkas Adi.
Jika rebutan pengaruh terus menjalar dan tak bisa dihentikan, maka saat pemilu 2024, Demokrat mungkin hanya tinggal kenangan.