Jakarta, NAWACITAPOST.COM – Walaupun tak pernah berhasil mendirikan negara Indonesia berbasis agama. Jamaah Islamiah (JI) tak pernah kapok. Terus menggulirkan adanya pendirian Negara Islam Indonesia atau NII.
Baca Juga : Lewat Kotak Amal Berinfaq, Teroris Jamaah Islamiyah Raup Dana 124 Miliar Rupiah, Digunakan Untuk Aksi Bom
Kelompok ini, tak mau dilakukan melalui Pemilu (Pilpres, Pileg dan Pilkada). Baginya pemilu itu haram hukumnya.
-
Biasanya mereka lebih sukan menerapkan pola dengan cara kekerasan yang radikal. Bom bunuh diri, penyerangan kepada kantor polisi, aparat kemanan lainnya, kementrian dan kalau bisa Presiden atau Wakil Presiden kerap menjadi keharusan utama untuk diterapkan.
Bom Bali satu dan dua, bom malam natal tahun 2000, bom kedebues AS. Adalah contoh nyata yang telah mereka lakukan. Aktor intelektualnya seperti Imam Samudra, Mukhlas, Ali Imron, dan Ghufran, serta dedengkot teroris di Indonesia, Dr. Azhari, dan Noordin M. Top, keduanya warga negara Malaysia dan anggota terpenting Organisasi Jamaah Islamiyah (JI). Hanya Ali Imran yang masih hidup,dan kini mendekam di penjara Polda Metro Jaya. Sebagian besar orangnya sudah meninggal dunia.
Tertangkapnya dua terduga teroris di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, pada Sabtu 29 Januari 2020.
Seakan memberi sianyal kuat, bahwa aksi-aksi radikal dari kelompok JI akan terus dikumandangkan. Kelompok ini tak peduli dengan pergantian di tubuh elit TNI dan Polri yang siap melibas mereka.
Bagi kelompok ini, yang ada adalah menghalalkan kekerasan menjadi pegangan aksinya. Korban tak berdosa berjatuhan dalam aksi biadab itu, tak pernah hiraukan atau tangisi, sesali. Yang ada justru katanya kemenangan telah dekat.
Perlu diketahui, provinsi Sumatera Utara. Sebelumnya tahun 2020 – 2021, sejumlah orang yang berafiliasi paham radikal berkiblat ke ISIS ditangkap polisi. Pengkapan itu, terkait kotak sumbangan berkededok amal. Yang ternyata dana itu digunakan untuk logistic penambah aksi.
Bahkan jika ditarik garis lurus, dari atas ke bawah. Aceh, Sumut, Sumbar, dan Lampung telah dijadikan kelompok berpaham radikal sebagai tempat bertemu para mentor dan pelaku aksi. Terutama di wilayah Sumut. Penangkapan terduga teroris ini mungkin entah sudah berapa kali terjadi.
Hanya sekedar catatan dan rekam jejak saja. Saat Pilkada 2018, terpilihnya Edy Rahmayadi menjadi Gubernur Sumut. Edy didukung PKS sebagai salah satu calon di Pilkada Sumut kala itu.
Dukungan PKS dan hadirnya juru kampanye di Pilkada itu, seperti Abdul Somad, Teungku Zulkarnain (eks elit HTI), Amien Rais, Gatot Nurmantyo ke Edy, tak bisa dibilang hanya pemberian gratis alas cek kosong belaka. Mungkin sejumlah syarat dan noktah-noktah tertentu, berada dalam deretan kesepatan itu, diduga ada. Salah satunya, mungkin boleh menjadikan Sumut tempat atau sarang dari paham dan aksi intoleren dan radikalisme.