Jumat, 5 Juni 2026

Mohamad Guntur Romli : FPI Baru Menipu Publik

Photo Author
Ronaldy, Nawacita Post
- Senin, 27 September 2021 | 11:39 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST - SAAT Pilkada Jakarta 2017, Anies Baswedan didukung dan menggunakan jasa Front Pembela Islam (FPI). Isu agama pun dimainkan dengan masifnya oleh FPI. Bahkan diaminkan oleh Anies. Jualan ayat dan mayat menjadi keharusan bagi warga Jakarta yang punya hak pilih. Dengan cara itu Anies menang dan menjadi Gubernur Jakarta 2017 -2022.

Baca Juga : Pangkostrad Letjen Dudung Abdurahman Tepat Jadi Penjabat Gubernur DKI Jakarta



Satu tahun mendekati masa berakhirnya Anies sebagai Gubernur dan dikaitkan dengan Pilpres, Pilkada dan Pileg serentak 2024. Anies ingin menggunakan jasa FPI lagi, tapi untuk Pilpres 2024.  Karena FPI model lama sudah dibubarkan dan dilarang pemerintah pada Desember 2020. Maka, Front Persaudaraan Islam (FPI reborn) di bangkitkan lagi.

Menurut Cendekiawan NU, Mohamad Guntur Romli dalam bincang seruput kopi yang dipandu Eko Kuntadi di Cokro TV, Minggu 26 September 2021, bahwa Anies  yang telah gagal memimpin Jakarta, dengan kengototannya ingin menggunakan jasa FPI reborn ini untuk pencapresan 2024.

Lanjut Guntur, "FPI reborn ini  lebih berbahaya dari FPI yang lama. Kenapa berbahaya?Karena tujuannya untuk menipu, pembohongan publik. Seolah-olah ada hal baru, padahal persis, seperti orangnya sama, ideologinya sama, kegiatan-kegiatannya lama, tindakan-tindakannya pasti sama. Kan tidak ada yang membedakan antara FPI yang lama dengan FPI yang baru atau dengan kata lain memberikan bungkusan baru yang sudah busuk dan rusak ke publik."

Hal senada disampaikan Islah Bahrawi pengamat teroris yang disampaikan dalam bincang seruput kopi yang dipandu Eko Kuntadhi bersama Mohamad Guntur Romli, "Front Persaudaraan Islam (FPI) Reborn ini tidak jauh beda  dengan FPI yang dilarang dan dibubarkan pemerintah. Dan FPI Reborn ini muncul secara sporadik ini merupakan persoalan etalase saja.  Mereka (FPI reborn) ini hanya ingin masuk bursa pemakai, karena ini persoalan pragmatisme politik. Berusaha mengkosmetis dirinya dengan reborn ini, tapi sebenarnya dia sedang finding user atau sedang mencari pemakai saja, ia tidak peduli persoalan normatif atau izin. Meskipun secara de jure mereka belum kantongi, tetapi mereka inginkan eksistensinya secara de facto."

 

 

Editor: Ronaldy

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB