Jakarta, NAWACITAPOST - JIKA Jokowi menerapkan cara Soeharto dalam memimpin NKRI. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sudah ditandai dalam KTP-nya. Keluarganya tak bisa bergerak. Periuk mata pencaharian mereka disumbat selamanya. Yang dilakukan Jokowi justru menenggalamkan dan menghancurkan keputusan-keputusan rezim orde baru.
Baca Juga : *Anggota HTI yang Menjadi ASN Melanggar Dua Sumpah Sekaligus: Sumpah PNS dan Qassam Hizb
HTI memang sudah dibubarkan sejak Juli 2017. Secara organisasi tak boleh berkiprah dalam NKRI. Tapi, organ Fungsional HTI berteberan di TNI, Polri, dan lembaga-lembaga pemerintah. Lalu, siapa orang-orangnya. Tragis dan berbahanya lagi, organ tersebut tetap difungsikan dan diaktifkan untuk menebar teror, berupa ancaman ideologi yang cenderung radikal kekerasan. Apalagi berkuasanya Taliban di Afganistan menjadi pemicu organ-organ HTI semakin terus bergerak.
Baca Juga : Waspada! Taliban Berkuasa, JK Bisa Gerakan Eks HTI dan FPI?
Seperti dilansir dari website shautululama.id, dan sumber dari group WA GRPB. Pertama Lajnah Thalabun Nushrah. Tugasnya memang dikhususkan menyusup ke TNI/Polri untuk merekrut perwira tinggi dan menengah kemudian dibina dalam halaqah-halaqah HTI dan ditugaskan melakukan kudeta! Lajnah ini amat-sangat rahasia!! Di tingkat pusat hanya ada lima orang anggota. Dipimpin oleh seorang Ketua Lebih dan disupervisi langsung oleh Amir Hizbut Tahrir internasional!
Kedua Lajnah Fa'aliyah. Tugasnya menyusup ke lembaga-lembaga negara, partai politik, dan ormas Islam untuk merekrut ketua lembaga seperti ketua MPR, DPR, DPD, menteri-menteri, MA, MK, Kejaksaan Agung, ketua partai, dan ormas-ormas kemasyarakatan kemudian dibina dalam halaqah-halaqah HTI dan ditugaskan mengkondisikan lembaga negara, partai dan ormas-ormas untuk mendukung kudeta yang dieksekusi oleh dewan jenderal yang telah dibina oleh Lajnah Thalabun Nushrah. Melakukan kudeta di tingkat pusat hanya ada lima orang anggota. Dipimpin oleh seorang Ketua Lebih dan disupervisi langsung oleh Amir Hizbut Tahrir internasional. Saat ini Ketua Lajnah Fa'aliyah HTI sekarang adalah M. Rahmat Kurnia (Dosen IPB).
Ketiga Lajnaj siyasiyah. Bertugas membangun opini masyarakat! Untuk menyerang pemerintah. Tujuannya agar masyarakat mendukung Khilafah melalui tulisan yang disebarkan dengan nama fiktif! Seperti: Nasrudin Hoja, buletin Kaffah, tabloid Media Umat, dan channel Youtube Khilafah Channel, dll. Lajnah ini juga yang mengatur dan mensupervisi gerakan LBH Pelita Umat. LBH ini bentukan HTI.
Keempat Lajnah Khos Ulama. Mempunyai tugas untuk menyusup ke pesantren-pesantren dan majlis ta'lim untuk merekrut para kiai dan ustadz yang akan dibina dalam halaqah-halaqah HTI untuk memberi dukungan bagi tegaknya Khilafah versi HTI. Lajnah ini diiisi oleh anggota senior HTI yang punya latar belakang santri Antara lain, Mustofa Ali Murtadha, Yasin Muthahhar, Ahmad Junaidi (Gus Juned), Nurhilal Ahmad, Abdul Karim, dll. Mereka mempublikasi kegiatan di website shautululama.id.
Kelima Lajnah Thullab wal Jami'ah. Lajnah ini bertugas merekrut pelajar dan mahasiswa melalui Rohis dan LDK yang berafiliasi ke HTI dan melalui komunitas milineal yang dibuat oleh aktivis HTI seperti yukngaji yang diinisiasi oleh Felix Siauw, KARIM, dll. Untuk LDK-LDK yang berafiliasi dengan HTI dikumpulkan dalam BKLDK dan Gema Pembebasan.
Keenam HTI punya majalah namanya al-Wae'ie yang berisi propaganda provokotif dan menjelek-jelekan pemerintah.
Ketujuh Lajnah Dosen, Peneliti dan Akademisi. Tuganys merekrut para akademisi (dosen, peneliti, tenaga administrasi kampus) untuk dibina dalam halaqah-halaqah HTI. Lajnah ini dikomandani oleh: Prof. Fahmi Amhar dibantu Dr. Kusman Sadik (Dosen IPB), Dr. Fahmi Lukman (Dosen UNPAD). Dan juru bicara HTI, M. Ismail Yusanto dan Wakilnya Farid Wajdi